Tampilkan postingan dengan label Peta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peta. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

MEDIA PEMBELARAJAN PETA MELALUI PAPER POLYHEDRA

Pernahkah mengalami kesulitan dalam menerapkan pembelajaran geografi di kelas X, XI dan XII. Jika pernah mengalaminya, materi apakah yang sulit untuk dilakukan pembelajarannya di kelas sesuai dengan kemampuan siswa. Maka untuk mengoptimalkan pembelajaran di kelas, maka ada media yang menarik dan sudah tersedia untuk diterapkan sehingga pembelajaran menjadi menarik.

Namun dalam penggunaan pembelajarannya, guru harus melalukan beberapa kegiatan persiapan, antara lain pencetakan gambar-gambar pada tautan di bawah yang tersedia sesuai dengan resolusinya masing-masing. Selanjutnya Siswa atau guru memfasilitasi dengan lem, pengaris. pisau dan lain-lain sehingga siswa akan mudah merangkainnya sesuai pola yang tersedia. 

Materi yang tersedia medianya, antara lain pada materi PETA. Materi ini pada KTSP ada pada silabus Kelas XII Semester I dan pada Kurikulum 2013 (K-13) berada pada Kelas X Semester I.Untuk lebih jelas tentang media pembelajaran peta terutama pada sub materi proyeksi dengan memanfaatkan Paper Polyhedra dapat di klik disini. 

Dilain waktu, akan saya jelaskan media pembelajaran peta melalui Paper Polyhedra ini. Terima kasih

Selasa, 13 Januari 2015

Senin, 21 Oktober 2013

Ingat, 13.466 Pulau di Indonesia Lho



Luasnya wilayah Indonesia dari data-data yang ada di buku atau beberapa sumber terdapat kesalahan data. Ada yang menyatakan berjumlah lebih dari 17 ribu pulau, ada juga yang berjumlah 13 ribu pulau. Bahkan data dari Kementerian Dalam Negeri RI tahun 2004 dan juga tertulis di wikipedia berjumlah 17.504 pulau. Saat ini Badan Informasi Geospasial (BIG) yang mempunyai hak untuk mengeluarkan data-data terkait dengan keruangan (spasial) wilayah Indonesia. Badan Informasi Geospasial merupakan pengganti dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) sesuai Undang-undang Informasi Geospasial nomor 4 Tahun 2011. Badan ini mempunyai kekuatan hukum dan menjadi dasar dalam menentukan wilayah sesuai keruangan Indonesia, berdasarkan data dan survei yang dilakukannya di lapangan. 

Badan/instansi/lembaga harus berpijak pada peta dasar yang dikeluarkan oleh BIG. Sedangkan yang lain dapat mengembangkannya sesuai data aslinya dari BIG sehingga keakuratan data dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan undang-undang nomor 4 tahun 2011 tersebut. Sesuai data yang dilansir oleh BIG tentang jumlah pulau di Indonesia sampai saat ini yang diberikan nama secara resmi dan memenuhi kriteria sebagai pulau, terdapat 13.466 pulau dan bukan 17.508 pulau.
Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (Timnas PNR) pada 2007-2010 telah diinventarisasi dan dibakukan nama serta koordinat petanya oleh BIG. Data pulau terbaru dimasukkan ke dalam Data Kewilayahan Referensi Tunggal Geospasial yang memuat peta garis pantai Indonesia dan jumlah yang dibakukan. Selain itu BIG telah melaporkan data itu ke United Nations Group of Expert on Geograpichal Names (UNGEGN).

Faktor jumlah tersebut dipengarhui adanya pulau yang sudah tenggelam dan perbedaan kriteria status pulau dari pemetaan terdahulu dan saat ini. BIG sendiri, lanjut dia, kini mengacu pada kriteria pulau yang diakui PBB. Pada Pasal 121 Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional Tahun 1982 (UNCLOS’82) disebutkan definisi pulau adalah daratan yang terbentuk secara alami dan dikelilingi oleh air, dan selalu di atas muka air pada saat pasang naik tertinggi. Jumlah pulau yang selama ini diyakini sebanyak 17.508 buah, rancu dan tidak jelas dasarnya. Kemungkinan, sambung dia, gosong juga dimasukan sebagai pulau. Padahal, gosong adalah gundukan pasir atau terumbu karang yang muncul saat air surut atau tenggelam saat pasang naik air laut.

Jumlah yang banyak akan memberikan arti bagi bangsa Indonesia, bahwa Indonesia harus menjaga keberadaan pulau-pulau tersebut. Kekayaan inilah yang harus dilindungi oleh bangsa Indonesia dan dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa indonesia untuk menjadi lebih baik.Untuk itu, maka sebagai seorang guru geografi, untuk dapat menyebarkan informasi ini agar tidak salah sehingga pada masa akan datang tidak ada perselisihan mengenai data pulau Indonesia. Pulau-pulau tersebut merupakan suatu kekayaan yang dimiliki Indonesia untuk dikembangkan sesuai dengan potesinya.

Minggu, 07 Oktober 2012

PETA BARU SUMATERA DILUNCURKAN 2014


Pada tahun 2014 mendatang Badan Informasi Geospasial (BIG) akan membuat peta baru Sumatera dengan skala 1: 150.000. Bahkan untuk kota besar seperti Medan dan Pekan Baru, akan dibuat peta dasar yang lebih detail dengan skala 1 : 10.000. Peta dasar atau geospasial yang akurat sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan infrastruktur daerah. Untuk itu, informasi terbaru dan akurat dari geospasial sangat dibutuhkan.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Promosi dan Kerjasama BIG F Wahyutomo pada Workshop Geospasial di Inna Dharma Deli Medan, Kamis (4/10).

Dikatakan, pengetahuan geospasial yang didapatkan melalui mata pelajaran geografi ini berperan penting dalam perumusan kebijakan untuk memecahkan masalah terkait pembangunan, baik penataan ruang, kebencanaan, pengelolaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.

Dan guru sebagai ujung tombak pendidikan harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih dalam tentang geospasial ini, sehingga ilmu ini dapat diteruskan kepada peserta didik. Sehingga guru juga dapat berkontribusi aktif dalam penyelenggaraan Informasi Geospasial (IG) yang dimuat dalam Undang-Undang No 4 Tahun 2011, yang mengatur tentang penyelenggaraan IG di Indonesia, ucapnya.

"Melalui mata pelajaran Geografi, Informasi Geospasial ini diharapkan memberikan informasi lebih akurat yang dapat dipertanggungjawabkan dan mudah diakses oleh masyarakat. Sehingga bisa meningkatkan kewaspadaan dalam bencana dan pembangunan," ujar Wahyutomo.

Menurut dia, jika terjadi tumpang tindih IG dan perbedaan referensi geometri pada IG dapat berdampak pada borosnya anggaran pembangunan dan ketidakpastian hukum. Ketika dua atau lebih kawasan digambarkan secara tidak akurat di lapangan maka dapat menimbulkan konflik dan menghambat jalannya pembangunan.

Misalnya, terjadi ketidaksepahaman masalah batas wilayah administratif, hingga masalah batas wilayah negara atau kawasan tertentu, seperti kehutanan dengan kawasan pengelolaan pertambangan.

"Karenanya, IG yang telah diolah berperan penting dalam perumusan kebijakan untuk memecahkan masalah terkait pembangunan," tukasnya.

Dalam kesempatan ini Wahyutomo mengungkapkan terkait dengan pembangunan Indonesia, Koridor Ekonomi Sumatera membutuhkan koneksi berupa jalan tol sepanjang sekitar 1.980 km untuk menghubungkan 4 wilayah koridor utama, yaitu Lampung, Palembang, Pekanbaru serta Medan.

Selain itu, perlu juga dibangun koneksi sekitar 720 km untuk koridor koneksi di Bengkulu, Padang dan Sibolga melalui pembangunan High-Grade Highway. Dibutuhkan juga 5 pelabuhan udara dan 6 pelabuhan utama untuk mendukung konektivitas ke wilayah lain.

Mewujudkan pembangunan ini, ketersediaan Informasi Geospasial (IG) yang berkualitas memegang peranan penting dalam menjalin keberhasilan pengelolaan sumberdaya alam untuk pembangunan.

Masterplan

Dalam mendukung pelaksanaan program Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ini, ketersediaan dan persebaran berbagai sumberdaya yang dimiliki suatu daerah adalah modal utama pembangunan wilayahnya dapat diinventarisasi untuk menentukan kebijakan yang tepat. Ini diharapkan dapat dipahami oleh seluruh pemerintah daerah terutama pemangku kepentingan khususnya pada daerah-daerah yang menjadi koridor MP3EI.

Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Dr Ibnu Hajar Damanik mengatakan guru-guru khususnya guru Geografi, merupakan orang pertama yang memberikan pencerahan tentang teknologi Geospasial ini. Sebagai ujung tombak pendidikan IG, guru harus kaya dengan ilmu peta dasar ini. Sayangnya lulusan Geografi di Sumatera Utara (Sumut) masih sangat sedikit.

Pendidikan, kata Rektor menjadi wahana paling tepat mendesiminasi tentang Geospasial ini. Dan hal ini juga sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan pemerintah.

Dia juga menyampaikan di Sumatera, hanya 4 perguruan tinggi negeri yang memiliki jurusan Geografi. Unimed merupakan salah satunya. Namun setiap tahunnya,kita hanya meluluskan sekitar 120 orang sarjanan Geografi. "Jumlah ini masih sedikit dibanding jurusan lainnya. Padahal, alumni Geografi sangat mudah memperoleh pekerjaan," tandasnya.

Sumber : http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/06/79271/peta_baru_sumatera_diluncurkan_2014/

Jumat, 05 Oktober 2012

KARTUN SEBAGAI MEDIA APERSEPSI DAN EKPLORASI


Siswa baru akan beradaptasi dengan kondisi dan situasi sekolah yang berbeda dari jenjang pendidikan sebelumnya. Begitu juga dengan siswa SMA yang masih malu-malu karena masih mempelajari transisi dari SMP yang menggunakan celana/rok pendek warna biru ke celana/rok panjang yang berwarna abu-abu. Begitu juga ketika siswa di dalam kelas melihat dan memahami guru yang masuk dikelasnya dan banyak pertanyaan muncul siapa guru itu? atau guru ini mengajarkan pelajaran apa.
Pengalamanan yang begitu mengesankan ketika mengajar geografi untuk kelas X (sepuluh). Siswa akan merasakan pengalaman baru jika diberikan apersepsi tentang pelajaran yang akan dipelajarinya. Untuk mengekplorasi pengetahuan awal maka dilakukan apersepsi melalui tontonan kartun yang pernah dilihatnya ketika masih SD ataupun SMP, atau tontonan yang sering dilihatnya. Misalnya, ketika memberikan pengetahuan awal untuk belajar geografi maka diarahkan siswa untuk mengekplorasi kartun DORA yang selalu membawa peta. Peta merupakan ciri khas dalam pelajaran geografi, maka siswa akan terus untuk mengekplorasi tontonan kartun tersebut. Dengan kartun Dora maka geografi lebih dikenal dan mudah untuk dipahami.
Begitu juga dengan film kartun lainnya, maka diarahkan siswa untuk melihat gambar di papan tulis sebuah gambar dataran rendah, tinggi, gunung, sungai, dan samudera, maka akan diarahkan pada tontonan kartun NINJA HATORI. Ninja Hatori akan mengajak siswa aktif dalam bersuara dan bernyanyi.
"........
mendaki gunung lewati lembah,
sungai mengalir indah ke samudera
bersama teman bertualang"

dengan lagu ini, maka siswa semakin bersemangat untuk belajar dalam memahami materi pertama pelajaran geografi. Itulah apersepsi dan ekplorasi yang dilakukan dalam langkah-langkah dalam pembelajaran.
Begitu juga diarahkan acara yang berkaitan dengan geografi misalnya membandingkan pelajaran lain agar kedudukan geografi itu penting bagi siswa. Misalnya yang sering dilihat di TV adalah NATIONAL GEOGRAPHY, tidak ada National Fhisis atau National Biology. dan lain-lainnya.
Begitu juga tontonan di TV mengenai Boneka Si Unyil, Bolang (Bocah Petualang), Panji Penakluk Ular, Ekpedisi, Archiepelago, Jelajah daln lain-lain. Ini memberikan siswa lebih memahami apersepsi dan ekplorasi jika dilakukan untuk kelas X (sepuluh) Semester Ganjil Pelajaran Geografi pada siswa baru yang baru mengenal sekolah yang barunya.
Bahwa Televisi (TV) itu bagian yang positif untuk ditonton oleh siswa sebagai menambah kecintaan pada Tanah Air Indonesia sesuai dengan Nilai Karakter Bangsa, juga memberikan nilai positif dalam menonton TV bagi siswa.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Kamis, 04 Oktober 2012

WORKSHOP GEOSPASIAL KERJASAMA BIG DAN UNIMED


Peningkatan peran dan fungsi informasi dibidang geospasial menuntut untuk perubahan pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) ke Badan Informasi Geospasial (BIG) sesuai dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial yang disahkan pada tanggal 21 April 2012 sangat berarti bagi perkembangan geospasial di Indonesia terutama terkait dengan peta dan pemetaan. Tujuan dari UU IG ini adalah untuk (1) Menjamin ketersediaan dan akses terhadap IG yang dapat dipertanggung jawabkan; (2) Mewujudkan keberdayagunaan dan keberhasil-gunaan dalam penyelenggaraan IG melalui kerjasama, koordinasi, integrasi, dan sikronisasi; (3) Mendorong penggunaan IG dalam pemerintahan, dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat; dan (4) Single Reference di dalam bidang IG. Tahapan penyelenggaraan IG terbagi menjadi 3 bagian: (1) hulu: Informasi Geospasial Dasar dan Tematik; (2) Tengah: Akses, Distribusi, Pertukaran; (3) Hilir: Profesi, Kepastian Bisnis, Pemanfaatan.

Oleh karena itu Indonesia membutuhkan Informasi Geospasial yang akurat, bisa dipertanggung jawabkan dan mudah diakses masyarakat. IG diperlukan untuk dasar perencanaan penataan ruang, penanggulangan bencana, serta pengelolaan sumber daya alam, sumberdaya manusia dan sumber daya lainnya sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran seluruh rakyar Indonesia. Informasi Geospasial Dasar (IGD) hanya diselenggarakan oleh Pemerintah yaitu Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai pengganti dari BAKOSURTANAL.

Ini sebagai bagian dari Workshop Informasi Geospasial dalam mendukung terlaksananya MP3EI yang diselenggarakan oleh BIG bekerjasama dengan Universitas Negeri Medan (Unimed) pada hari Kamis, 4 Oktober 2012 di Hotel Inna Dharma Deli Medan.

Pada kegiatan sosialisasi ini banyak materi yang disampaikan antara lain:
1. Undang-undang tentang Informasi Geospasial oleh Bapak Sora Lokita dari BIG
2. Informasi Geospasial dan MP3EI dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat oleh Bapak  Maruhum Batubara dari Staf Ahli Menkokesra
3. Penyiapan SDM Informasi Geospasial melalui Lembaga Pendidikan Tinggi oleh Drs. Restu, M.S (Dekan FIS Unimed)
4. Pemetaan Rupabumi Indonesia oleh Bapak Dr. Ir. Ade Komara Mulyana dari BIG
5. Atlas untuk Pendidikan dari BIG
6. Aplikasi Geospasial untuk Industri Kelapa Sawit oleh Ir. Zahari Zein, M.Sc., Ph.D dari Dosen USU dan peneliti
7. Indonesia Geospasial Portal dari BIG

Yang menjadi peserta kegiatan ini ialah dosen-dosen jurusan Pend.Geografi Unimed, guru-guru geografi dari beberapa daerah Sumatera Utara dan mahasiswa. Kegiatan yang dilaksanakan dari pagi hingga sore terasa hikmat karena sesi presentasi dan tanya jawab begitu hangat dalam berinteraksinya dan menghasilkan beberapa saran dan juga tanggapan ataupun pertanyaan terhadap nara sumber.

Pihak BIG juga membuka stand untuk menjual serta memberikan informasi tentang berbagai hal termasuk atlas, peta dan lain-lainya. Termasuk juga sentra unimed sebagai penyalur menjual produknya dari hasil kerjasama Unimed dan BIG.

Semoga kegiatan workshop ini bermanfaat bagi kita semua untuk bidang IG dan geografi yang berkaitan langsung dengan IG dalam melakukan pembelajaran di kelas. Dengan demikian pemberlakuan UU IG ini akan semakin memberikan keluasaan dan meningkatkan peran BIG dan geografi dalam mendukung pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Selain itu juga mempercepat dalam pencapaian MP3EI ini. Amin

Sukses BIG, maka semua bisa membuat PETA. :)

UNDANG-UNDANG INFORMASI GEOSPASIAL


Undang-Undang Informasi Geospasial telah disahkan oleh Presiden RI menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, pada tanggal 21 April 2011.
Informasi Geospasial, yang lazim dikenal dengan peta, adalah informasi obyek permukaan bumi yang mencakup aspek waktu dan keruangan. Informasi Geospasial merupakan bagian penting dalam mewujudkan sistem informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung sektor publik dalam melaksanakan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan, baik pada pemerintahan tingkat pusat maupun tingkat daerah, dan juga pada sektor perorangan dan kelompok orang. Informasi Geospasial menjadi komponen penting dalam mendukung pengambilan keputusan. Peran Informasi Geospasial semakin penting dalam pembangunan, namun masih banyak permasalahan yang muncul karena belum adanya peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur tentang Informasi Geospasial. Pentingnya undang-undang tentang Informasi Geospasial adalah usaha untuk menjadikan Informasi Geospasial menjadi program di setiap instansi pemerintah dan tanggung jawab masyarakat, agar penyelenggaraannya menjadi sistematis dan berkelanjutan. Undang-Undang tentang Informasi Geospasial ini diharapkan menjadi aturan yang mengikat bagi seluruh pemangku kepentingan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Keberlangsungan penyelenggaraan Informasi Geospasial memerlukan dukungan dari berbagai pihak, yaitu Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat yang menjadi penyelenggara Informasi Geospasial. Keberlangsungan penyelenggaraan Informasi Geospasial sangat erat kaitannya dengan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial (IPTEKS). Pengaturan tentang Informasi Geospasial mendesak untuk dilakukan sejalan dengan meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat dan kemajuan teknologi yang sangat pesat, masyarakat secara umum semakin menyadari makna penting dari sebuah informasi. Informasi Geospasial sekarang sudah muncul dalam berbagai ragam bentuk dan kemanfaatannya, seperti tersedianya berbagai Informasi Geospasial yang dapat diakses melalui jaringan internet pada komputer atau telepon seluler. Hak masyarakat, baik perorangan maupun badan usaha, untuk mendapatkan Informasi Geospasial yang benar dan dapat memanfaatkannya untuk keperluan masyarakat harus terjamin. Di sisi lain harus ada kejelasan tentang kewajiban masyarakat terkait penyelenggaraan Informasi Geospasial.

Undang-undang Nomor 4 Tahu 2011 tentang Badan Informasi Geospasial (BIG) dapat dilihat di http://big.go.id/bakosurtanal/assets/download/UU_IG/PERPRES%20NOMOR%2094%20TAHUN%202011.pdf

Perpes Nomor 94 Tahun 2011 tentang Badan Informasi Geospasial (BIG)
http://big.go.id/bakosurtanal/assets/download/UU_IG/PERPRES%20NOMOR%2094%20TAHUN%202011.pdf

Sumber : http://big.go.id/bakosurtanal/undang-undang-informasi-geospasial/

Kamis, 20 September 2012

PROYEKSI PETA

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa peta merupakan penggambaran objek di Bumi dengan sistem proyeksi dari bidang lengkung ke bidang datar. Nah, pada tahap ini diperlukan penggunaan proyeksi dengan tepat. Apa dan bagaimana proyeksi peta itu?

Proyeksi Peta

Bentuk Bumi bulat sedangkan peta berbentuk datar. Di sinilah sistem proyeksi diperlukan untuk memindahkan kenampakan di Bumi pada bidang datar. Secara sederhana proyeksi peta dapat diartikan sebagai cara pemindahan garis paralel dan meridian dari globe (bidang lengkung) ke bidang datar. Ini artinya proyeksi merupakan suatu sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di Bumi dan di peta.

Coba kamu bayangkan jika Bumi yang berbentuk bola kemudian dibentangkan menjadi bidang datar. Pasti di beberapa posisi terkesan melengkung, inilah yang disebut distorsi atau kesalahan. Padahal di sisi lain peta bisa disebut ideal jika bisa menggambarkan luas, bentuk, arah, dan jarak dengan benar. Keempat persyaratan peta yang ideal sulit untuk dipenuhi. Upaya yang bisa dilakukan dengan mengurangi risiko kesalahan sekecil mungkin dengan memenuhi satu atau lebih persyaratan tersebut.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan langkahlangkah berikut.
1. Wilayah yang akan dipetakan dibagi menjadi bagian-bagian yang tidak begitu luas.
2. Memilih bidang proyeksi yang sesuai dengan posisi wilayah yang dipetakan, misalnya bidang datar, bidang kerucut, dan bidang silinder.

Nah, dalam memilih macam proyeksi, hal-hal yang dipertimbangkan, yaitu:
a. Bentuk, letak, dan luas daerah yang dipetakan.
b. Ciri-ciri tertentu atau ciri-ciri asli yang akan dipertahankan,

seperti mempertahankan bentuk (conform), luas (equivalent), dan jarak (equidistant). Oleh karena sulit untuk memenuhi ketiga syarat sekaligus, maka dipilih syarat yang bisa terpenuhi dengan pemilihan proyeksi peta. Karena itu pulalah terdapat beragam tipe proyeksi peta dengan kelebihan dan kekurangan, sesuai dengan tujuan peta dan bagian muka Bumi yang digunakan.

Beberapa istilah sederhana dalam proyeksi:
1. Meridian dan meridian utama.
2. Paralel dan paralel nol atau ekuator.
3. Bujur (longitude-j), Bujur Barat (0°–180°BB) dan Bujur Timur (0°–180°BT).
4. Lintang (latitude-l), Lintang Utara (0°–90°LU), dan Lintang Selatan 0°–90°LS).

Mungkin penjelasan di depan membuatmu bingung? Jangan khawatir, agar kamu lebih memahami masalah proyeksi, cermati gambar-gambar berikut.


Pada gambar bagian A, kamu bisa memahami bagaimana perubahan bentuk bisa terjadi dari bidang lengkung (segi empat) pada globe berubah menjadi seperti bagian C di bidang datar. Perubahan ini mengakibatkan adanya distorsi di berbagai wilayah di permukaan Bumi. Bagaimana bentuk distorsinya? Coba bayangkan jeruk sebagai Bumi. Kupaslah kulit jeruk tersebut seperti gambar berikut.


Bagian manakah yang mengalami distorsi? Ya, bagian tengah atau lintang rendah (khatulistiwa dan sekitarnya) serta bagian kutub mengalami distorsi menjadi lebih besar. Bisa dikatakan semakin ke kutub semakin besar distorsinya. Melihat kenyataan ini maka jika kita akan memetakan wilayah khatulistiwa harus memilih proyeksi yang benar-benar sesuai. Begitu juga dengan wilayah kutub. Lalu proyeksi apa yang sesuai? Kenali dahulu beberapa tipe proyeksi.

1. Proyeksi Berdasarkan Bidang Proyeksi
Berdasarkan bidang proyeksi yang digunakan, proyeksi ini dibedakan menjadi:

a. Proyeksi Zenithal (Azimuthal)
Bidang proyeksi ini berupa bidang datar yang menyinggung bola pada kutub, ekuator atau di sembarang tempat. Oleh karena itu, proyeksi ini dibedakan menjadi:
1) Proyeksi azimuth normal, di mana bidang proyeksinya bersinggungan dengan kutub.
2) Proyeksi azimuth transversal, bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
3) Proyeksi azimuth oblique, bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.



Sebelum menggunakan proyeksi ini kamu harus memahami benar cirinya, yaitu garis-garis bujur sebagai garis lurus yang berpusat pada kutub, garis lintang digambarkan dalam Bentuk lingkaran yang mengelilingi kutub, sudut yang dibentuk antara garis bujur sama besarnya pada peta, dan seluruh permukaan Bumi jika digambarkan dengan proyeksi ini akan berbentuk lingkaran. Nah, kamu dapat melihat hasil penggunaan proyeksi ini pada gambar di atas. Gambar tersebut merupakan proyeksi azimuth normal yang dianggap sebagai proyeksi yang cocok untuk memetakan daerah kutub. Penggambaran kutub dengan proyeksi ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

1) Proyeksi Gnomonik
Pada proyeksi ini, titik pusat seolah berada di pusat lingkaran (digambarkan seperti sinar matahari yang bersumber di pusat lingkaran). Menggunakan proyeksi ini lingkaran paralel makin keluar makin mengalami pembesaran hingga wilayah ekuator.



2) Proyeksi Azimuthal Stereografik
Pada proyeksi ini seolah-olah sumber arah sinar berasal dari arah kutub berlawanan dengan titik singgung proyeksi. Akibatnya jarak antarlingkaran paralel semakin membesar ke arah luar.


3) Proyeksi Azimuthal Orthografik
Pada proyeksi ini seolah-olah sumber arah sinar matahari berasal dari titik jauh tidak terhingga. Akibatnya sinar proyeksi sejajar dengan sumbu Bumi. Jarak antarlingkaran akan makin mengecil apabila semakin jauh dari pusat.


b. Proyeksi Silinder (Cylindrical)
Proyeksi ini menggunakan silinder sebagai bidang proyeksinya dan menyinggung bola Bumi. Jika proyeksi ini menyinggung wilayah khatulistiwa, maka garis paralel merupakan garis horizontal dan garis meridian.


Beberapa keuntungan penggunaan proyeksi ini, yaitu dapat menggambarkan wilayah yang luas dan sesuai untuk menggambarkan wilayah khatulistiwa atau lintang rendah.

c. Proyeksi Kerucut
Dari namanya saja pasti kamu langsung tahu bahwa proyeksi ini berkaitan dengan bangun kerucut. Proyeksi ini memiliki parallel melingkar dengan meridian berbentuk jari-jari. Baris parallel berupa garis lingkaran, sedangkan garis bujur berupa jari-jari. Proyeksi ini paling tepat digunakan untuk memetakan daerah lintang 45° atau lintang tengah.


Secara garis besar, proyeksi ini dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1) Proyeksi Kerucut Normal atau Standar
Proyeksi ini menggunakan kerucut dengan garis singgung dengan bola Bumi terletak pada suatu paralel (paralel standar).
2) Proyeksi Kerucut Transversal
Pada proyeksi ini sumbu kerucut berada tegak lurus terhadap sumbu Bumi.
3) Proyeksi Kerucut Oblique (Miring)
Pada proyeksi ini sumbu kerucut membentuk garis miring terhadap sumbu Bumi.


Ketiga proyeksi berdasarkan bidang ini (azimuthal, kerucut dan silinder) termasuk kelompok proyeksi murni yang penggunaan dalam kehidupan sehari-hari sangat terbatas karena dirasa sulit. Selanjutnya, proyeksi berdasarkan bidang ini mengalami modifikasi hingga muncul proyeksi gubahan.



2. Proyeksi Modifikasi/Gubahan (Proyeksi Arbitrary)
Proyeksi ini lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang diperoleh melalui perhitungannya.

a. Proyeksi Bonne (Equal Area)
Proyeksi ini merupakan proyeksi yang baik untuk menggambarkan wilayah Asia yang letaknya di sekitar khatulistiwa. Proyeksi ini menggambarkan sudut dan jarak yang benar pada meridian tengah dan pada paralel standar, terdapat distorsi yang cukup besar apabila menjauhi meridian tengah.


Proyeksi Boone pertama kali dihitung oleh Ringober Boone pada pertengahan tahun 1700-an dan sesuai untuk memetakan negara-negara di lintang tengah seperti Amerika Serikat. Keseluruhan garis paralel terbagi merata. Skalanya benar untuk menggambarkan wilayah sepanjang meridian tengah.

b. Proyeksi Mollweide
Pada proyeksi ini, tiap bagian mempunyai ukuran yang sama luas hingga ke wilayah pinggir proyeksi. Semakin mendekati kutub, ukuran berubah semakin kecil.


c. Proyeksi Sinusoidal
Proyeksi ini lebih dikenal oleh orang-orang di wilayah Amerika Selatan, Australia, dan Afrika, karena sesuai untuk menggambar wilayah tersebut. Selain itu, proyeksi ini dapat juga digunakan untuk menggambarkan daerah yang kecil di belahan Bumi mana saja maupun daerah luas yang jauh dari khatulistiwa. Proyeksi ini menggambarkan sudut dan jarak yang tepat untuk wilayah meridian tengah. Sedangkan untuk wilayah khatulistiwa bisa digambarkan dengan luasan yang sesuai.


d. Proyeksi Mercator
Proyeksi ini melukiskan Bumi di bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola Bumi, kemudian seolah-olah silindernya dibuka menjadi bidang datar.



Hasil proyeksi ini layak digunakan untuk memetakan wilayah dekat ekuator. Akan tetapi makin mendekati kutub, distorsi semakin besar. Selain karakteristik ini, masih ada ciri lain yang dimiliki proyeksi ini, yaitu:
1) Kutub-kutub hampir tidak dapat dipetakan karena terletak di posisi tidak terhingga.
2) Interval jarak antarmeridian sama.
3) Interval jarak antarparalel tidak sama, semakin mendekati kutub semakin lebar.
4) Menggunakan proyeksi ini, Bumi dibagi menjadi enam puluh zona. Tiap zona mempunyai lebar 6°. Zona nomor 1 dimulai dari daerah yang dibatasi oleh meridian 180°B dan 174°B, dilanjutkan ke arah timur sampai dengan zona enam puluh.

e. Proyeksi Homolografik (Goode)
Proyeksi ini merupakan proyeksi perbaikan kesalahan pada proyeksi Mollweide.


Proyeksi Goode pertama kali dihitung oleh John Paul Goode (1862–1932) dari Chicago. Semenjak itu mulai digunakan secara luas untuk peta global. Seperti pada gambar, peta ini dipotong menjadi beberapa bagian untuk mengurangi penyimpangan dan perentangan, terutama di wilayah samudra dan Antartika.

f. Proyeksi Gall
Ciri khas yang dimiliki proyeksi ini adalah bentuk yang berbeda pada wilayah lintang yang mendekati kutub.


3. Proyeksi Berdasarkan Sifat Asli yang Dipertahankan
Ditinjau dari klasifikasi ini, proyeksi dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Proyeksi Equivalent
Proyeksi ini mempertahankan luas daerah. Artinya luas daerah sebenarnya sama dengan luas daerah pada peta setelah dikalikan skala.

b. Proyeksi Konform
Proyeksi ini mempertahankan sudut-sudut sesuai dengan kenampakan di permukaan Bumi. Artinya skala yang dipertahankan adalah ketepatan sudut.

c. Proyeksi Equidistant
Proyeksi ini mempertahankan jarak sehingga jarak di atas muka Bumi sama dengan jarak di atas peta apabila dikalikan skala.



4. Proyeksi Berdasarkan Kedudukan Sumbu Simetri
Berdasarkan pembagian ini, proyeksi dibedakan menjadi:

a. Proyeksi Normal
Pada proyeksi ini, sumbu simetri berimpit dengan sumbu Bumi.

b. Proyeksi Miring
Pada proyeksi ini, sumbu simetri membentuk sudut miring dengan sumbu Bumi.

c. Proyeksi Transversal
Sumbu simetri pada proyeksi ini tegak lurus sumbu Bumi atau terletak pada bidang ekuator (disebut juga proyeksi equatorial).


Nah, itulah beberapa jenis proyeksi yang digunakan dalam pemetaan. Catatan penting yang harus kamu ingat, yaitu bahwaproyeksi peta selalu mempunyai distorsi (berubah dari bentuk aslinya). Beberapa proyeksi mungkin akan mengubah bentuk arah menjadi tidak tetap. Beberapa proyeksi lainnya mengubah ukuran, tetapi mempertahankan bentuk dan arah dengan tepat.

Pada perkembangannya, para pembuat peta telah membuat lebih dari seratus proyeksi yang berbeda. Untuk pemilihan proyeksi itu sendiri disesuaikan dengan tujuan untuk apa peta itu dibuat. Agar kamu memperoleh bayangan bagaimana proyeksi dan distorsi di dalamnya terjadi, lakukan percobaan sederhana berikut.
 
Penulis/Editor : Eni A dan Tri H
Sumber : http://ssbelajar.blogspot.com/2012/09/proyeksi-peta.html

KOMPONEN PETA

Setelah suatu kenampakan Bumi terproyeksi pada bidang datar, maka satu tahap pemetaan sudah dilaksanakan. Masih ada beberapa hal lagi yang harus dipenuhi agar gambaran permukaan Bumi tersebut layak disebut peta. Peta yang baik biasanya dilengkapi dengan komponen peta atau sering disebut kelengkapan peta.
Komponen Peta
Pada waktu SMP kamu pernah belajar membaca peta dengan bantuan komponen peta. Ingat bukan? Nah, kali ini kita akan membahasnya dengan lebih mendalam. Komponen peta menjadi hal yang harus ada pada peta, karena dengannya peta bisa dengan mudah dibaca, ditafsirkan, serta tentu saja tidak membingungkan.

1. Judul Peta
Judul menggambarkan isi sebuah peta. Apakah yang kamu dapat sesudah sekilas membaca judul peta? Ya, setidaknya kamu akan memperoleh gambaran muatan peta tersebut. Bahkan melalui judul pula, kamu bisa mendapatkan gambaran wilayah manakah yang dipetakan.
Demi tujuan tersebut, dalam pemilihan judul pun ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Judul harus mencerminkan informasi yang sesuai dengan isi peta.
b. Judul peta sebisa mungkin tidak menimbulkan penafsiran ganda.
2. Skala Peta
Kenampakan di permukaan Bumi tidak mungkin digambarkan dengan ukuran sebenarnya di peta. Jika hal itu dilakukan tentu saja memerlukan media yang luas. Nah, di sinilah skala peta berperan. Kenampakan di Bumi dapat diperkecil ukurannya dengan perbandingan ukuran agar dapat ditampilkan pada peta.
Perbandingan tersebut dinyatakan dalam skala. Di SMP kamu pernah belajar tentang skala dan bagaimana suatu skala disajikan. Penyajian skala dilakukan dengan tiga cara sebagai berikut.

Skala grafik hendaknya dicantumkan pada peta, karena sangat berguna pada saat melakukan pembesaran maupun pengecilan peta. Coba temukan peranan skala grafis dalam hal tersebut. Nah, setelah kamu temukan peranan skala peta tersebut kamu akan menyadari betapa pentingnya skala.
Lalu, bagaimana jika suatu peta tidak ada skalanya? Jika hal ini kamu temui, maka cara-cara berikut dapat kamu lakukan.
a. Membandingkan dengan objek pada peta yang sudah pasti diketahui ukurannya di lapangan. Cara ini dilakukan dengan mengambil objek yang secara umum telah diketahui ukurannya. Lapangan sepak bola misalnya yang mempunyai panjang 100 meter, atau dapat juga menggunakan objek-objek yang bisa kamu ukur di lapangan dan tampak pada peta. Dengan menggunakan lapangan sepak bola, jika suatu kenampakan digambarkan sepanjang 4 cm, maka peta mempunyai skala 1 : 2.500. Bagaimana jika panjang lapangan sepak bola digambarkan sepanjang 5 cm, berapa skalanya?
b. Menggunakan bantuan peta topografi. Pada peta topografi pada umumnya ditampilkan garis kontur. Masih ingat apa itu garis kontur? Garis kontur yaitu garis pada peta yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian yang sama. Deretan garis ini tidak diletakkan begitu saja, tetapi ada Contour interval (Ci) yang merupakan selisih ketinggian dua garis kontur. Nilai Ci dapat ditemukan dengan pedoman rumus berikut.
Nah, apabila suatu peta terdapat garis kontur tetapi tidak tercantum skala petanya, maka skala peta dapat dihitung.
Contoh:
Suatu peta wilayah x mempunyai Ci = 20 meter. Berapa skala peta tersebut?
Ci = 20
20 = 2.000 / 1× penyebut skala
Jadi, penyebut skala adalah 40.000. Nah, berarti peta tersebut mempunyai skala 1 : 40.000. Namun, ingat peta yang akan dihitung adalah peta asli, bukan hasil pembesaran maupun pengecilan.
c. Membandingkannya dengan peta lain dengan cakupan daerah sama dan ada skalanya. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

d. Menghitung skala dari garis lintang. Cara ini baik digunakan untuk wilayah dekat ekuator (lintang rendah). Pedoman yang digunakan yaitu panjang 1° lintang dekat ekuator = 68,7 mil = 110,56 km.
Contoh:
1,9 cm = 1° lintang
1,9 = 110,56 km
1,9 cm = 11.056.000 cm
1 cm = 5.889.474 cm
skala ± 1 : 5.900.000 (hasil pembulatan)
Jenis peta berdasarkan skala terdiri atas:
1. Peta kadaster, skala < 1 : 5.000.
2. Peta skala besar, skala 1 : 5.000 sampai dengan < 1 : 250.000.
3. Peta skala sedang, skala 1 : 250.000 sampai dengan < 1 : 500.000.
4. Peta skala kecil, skala 1 : 500.000 sampai dengan < 1 : 1.000.000.
5. Peta skala sangat kecil, skala > 1 : 1.000.000.
3. Petunjuk Arah (Orientasi)
Meskipun terlihat sederhana, tanda ini penting pada peta. Gunanya tentu saja untuk menunjukkan arah sehingga bermanfaat bagi penggunaan peta untuk menentukan arah. Coba lihat peta atau atlas yang kamu punyai. Bagaimanakah petunjuk arah ini digambarkan dan ditempatkan pada peta?
4. Simbol dan Warna
Dalam dunia pemetaan dikenal beberapa tipe simbol. Masih ingatkah kamu berbagai jenis simbol tersebut? Nah, untuk sekadar mengingatkanmu, simaklah geo info berikut.
Menggunakan simbol-simbol tersebut kamu dapat mengenali objek sosial seperti jalan raya, rel kereta api, lahan pertanian, pelabuhan dan sebagainya. Jalan raya dikenali dengan simbol garis. Tingkatan jalan bisa dibedakan dengan penggunaan simbol garis yang berbeda. Tipe garis yang berbeda ini pulalah yang membedakan jalan, jalan kereta api, dan sungai. Objek fisik bisa juga dikenali dari peta, seperti gunung yang dikenali dengan simbol segitiga dan bentang alam yang dikenali dari garis kontur.
Selain dengan simbol, penggunaan warna untuk menonjolkan perbedaan objek lazim digunakan. Tidak ada ketentuan baku penggunaan warna dalam peta. Terkadang kebiasaan umum serta maksud dan tujuan peta sering menjadi pedoman pewarnaan peta. Penggunaan warna juga bisa digunakan untuk membedakan data kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif digambarkan dengan gradasi warna. Bagaimana menyajikan simbol warna dapat kamu pelajari pada subbab di belakang.
5. Legenda atau Keterangan
Apakah artinya simbol tanpa keterangan, itulah gambaran betapa pentingnya legenda dalam sebuah peta. Legenda peta berisi keterangan simbol yang terdapat pada peta. Agar dapat memahami isi peta dengan baik, pembaca peta harus benar-benar memahami legenda. Buka dan lihat kembali atlas atau peta yang kamu miliki, di manakah letak legendanya?
6. Sumber dan Tahun Pembuatan Peta
Jika suatu saat kamu membutuhkan peta yang benar-benar dapat dipercaya, carilah peta dengan memerhatikan sumber dan tahun pembuatan. Mengapa harus dengan kedua hal tersebut? Sumber pada peta menunjukkan data-data yang digunakan dalam pemetaan, sehingga akan memberikan kepastian bahwa informasi yang disajikan dalam peta benar-benar akurat. Sedangkan informasi tahun memberikan petunjuk apakah data tersebut benar-benar up date dan tidak kedaluwarsa.
7. Inset
Inset digunakan untuk memperjelas posisi suatu wilayah yang ada di peta. Inset terdiri atas dua jenis, yaitu inset lokasi dan inset pembesaran. Inset lokasi memberikan gambaran global wilayah di sekitar daerah yang dipetakan. Contoh peta Provinsi Riau memerlukan inset peta Sumatra atau Indonesia. Sedangkan inset pembesaran digunakan untuk menggambarkan wilayah yang kecil.
Berbagai komponen peta ini harus ada di dalam peta dan diletakkan dengan tepat agar keterbacaannya benar-benar terjamin serta unsur keindahan pun tidak terabaikan. Untuk memenuhi keduanya, maka harus dibuat komposisi peta yang tepat.

Penulis/Editor : Eni A dan Tri H
Sumber : http://ssbelajar.blogspot.com/2012/09/komponen-peta.html#more