Sabtu, 15 September 2018

GURU GEOGRAFI MENGAJAR DI KELAS MILENIAL


Perubahan tidak akan pernah usai
Ide dan kreativitas terus mengikuti generasi pada zamannya
Setiap permasalahan perlu solusi dan penyelesaiannya
Dengan bersilaturahim, kepedulian dan berbagi antar generasi di setiap wilayah
Menghasilkan berbagai aksi nyata di kelas-kelas sekolah
Guru Geografi berkolaborasi tampil apa adanya
Menulis secara bergotong royong buku inspirasi untuk dibaca
Mengoptimalkan eneri, berfikir, bertindak dan berjiwa mulia
Inovasi pembelajaran terus ditumbuhkan dan dikembangkan di kelas-kelasnya
Membagi kisa geoinovasi, uji kompetensi, strategi & model, media pembedanya
Untuk bersinergi bersama Indonesia Raya
di KELAS MILENIAL GEOGRAFI Indonesia

(Sinopsis Buku Kelas Milenial Geografi)



Kolaborasi dan bersinerginya 25 guru geografi se Indonesia ikut berpartisipasi pada buku Kelas Milenial Geografi. Guru-guru yang terlibat berlatar belakang geografi yang mengajar IPS di SMP/SMA/MA. Berbagai ide, kreativitas, imajinasi muncul dan kemudian dituliskan dengan redaksi penulis sendiri yang begitu beragam sehingga memperkaya keilmuan guru geografi di Indonesia. 

Guru-guru dengan dedikasi, loyalitas, kreativitasnya tak ingat waktu untuk terus melakukan yang terbaik. Hari-hari di sekolah ataupun di rumah terus mengasah kemampuannya untuk berfikir dan melakukan sesuatu yang bermakna. Belajar dari berbagai referensi, eksperimen mini diberbagai simulasi, otak-atik bahan dan alat untuk menciptakan media yang akan ditampilkan pada pembelajarannya. 

Permainan kereta api  yang begitu unik, menyenangkan dan dilakukan diluar kelas. Intruksi dengan pluit seperti halnya peristiwa yang terjadi di stasiun kereta api. Siswa berjejer untuk menjawab berbagai pertanyaan secara bergantian. Keseruan, kelucuan, keriangan, keheboan dan mudah diingat dimemori otak apa yang dilakukannya tentang materi yang diajarkannya. Pembelajaran kelas milenial itu dilakukan oleh Ibu Risnani dari SMAN 1 Torjun untuk meningkatkan minat siswa belajar geografi. Bahwa geografi itu menyenangkan untuk dipelajari. 

Ibu Citra Dewy seorang guru dari SMAN 1 Payakumbuh yang terinspirasi dari permainan kartu monopoli  untuk diterapkan dalam pembelajaran. Membuat berbagai potongan kartu dari kerta dan disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan permainan menarik karena dikaitkan dengan materi geografi. Ide-ide yang sederhana dan dapat dibuat medianya dengan murah sehingga efektif untuk diterapkan di kelas bagi siswa milenial. Siswa yang memahami permainan monopoli akan langsung mengerti cara bermainnya. Ini mudah diserap segala materinya karena mengintegrasikan permainan dengan materi.   

Pernahkan bermain Darts Shooter di rumah atau di lokasi umum. Mengadopsi permainan itu, Bapak Musliadi dari SMAN 1 Mutiara menerapkan pada kelas yang diajarnya untuk materi struktur kota. Dengan media yang disajikan di dinding, maka permainan dimulai dengan anak busur kecil dimainkan. Siswa melakukannya dengan senang sekali karena dilakukan dengan suasana kebersamaan dan pembimbingan melalui berbagai pertanyaan dan diskusi. Banyak alumni bercerita bahwa pembelajaran yang dilakukan Bapak Musliadi selalu teringat karena pengalaman itu melekat. Ditambah lagi gaya berbicaranya yang banyak disukai oleh siswa.

Teknologi yang terus berkembang dapat dimanfaatkan pada smartphone menerapkan aplikasi untuk pemetaan. Inovasi dan kemauan dijadikan satu sehingga kelas-kelas yang selama ini hanya menggunakan smartphone untuk bermain digunakan untuk belajar. Aplikasi yang digunakan begitu sederhana sehingga kebermanfaatan dirasakan langsung oleh siswa saat setelah usai pembelajaran. Itulah aplikasi GPS Esensial yang tuliskan oleh Dimas Bayu Perdana Putra dan Iswahyudiharto.

Ibu Loide Simanullang berasal dari Medan menyusun lirik yang menarik untuk dinyanyikan di kelas. Bersama siswanya, bernyanyi untuk mengenalkan pulau-pulau kecil, terluar, terdepan, terjauh, tertinggal yang merupakan bagian dari NKRI. Beryanyi bersama menguatkan nilai nasionalisme karena akan meningkatan pengetahuan dan kedasaran tentang kayanya Indonesia dengan segala potensinya.
Seorang guru berprestasi di tingkat nasional melakukan yang sederhana namun penuh makna dan kreativitas. Bersama siswanya membuat miniatur/protipe sebuah lempeng dan bentukan-bentukan hasil tenaga endogen. Ketekunannya membuahkan hasil dan menjadi inspirasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Pembelajaran yang mengoptimalkan kegiatan psikomotorik, imajinatif menjadikan siswa termotivasi untuk terus berimajinasi, mengeluarkan ide-idenya untuk berkarya dengan perlatan dan perlengkapan terbatas. Hasilnya luar biasa untuk diterapkan di kelas-kelas geografi lainnya.

Itulah beberapa deretan potongan tulisan yang ada di buku Kelas Milenial Geografi. Dari buku KMG maka kita akan menemukan 4 bagian yaitu:  
  1. Geoinovasi, dengan 4 guru yang berpartisipasi mengkaji tentang inovasi pembelajaran geografi yang melibatkan faktor lain, jiwa, teknologi;   
  2. Uji Kompetensi, dengan 3 penulis yang kreatif mengelola metode penilaian yang terintegrasi dalam permainan pada pembelajaran;  
  3. Strategi & Model, tulisan 9 guru yang menerapan berbagai strategi dan model pembelajaran hasil kreativitas dan modifikasi yang dilakukan untuk mengefektifkan proses pembelajaran; 
  4. Media,  kreativitas 9 guru mengelola dan mengkreasikan media yang unik, sederhana, murah dan melibatkan partisipasi siswa ikut serta melakukan implementasi pembelajaran bahkan dalam pembuatan medianya. 
Kelas Milenial Geografi yang diartikan sebagai inovasi yang telah diterapkan pada pembelajaran-pembelajaran guru geografi tentang penemuan, pengembangan, modifikasi berbagai strategi, model, metode, media pembelajaran. Kreativitas berbagai dari materi dan kompetensi inti/kompetensi dasar (KI/KD) sebagai bentuk dedikasi guru untuk menciptakan kelas yang sesuai dengan perkembangan siswa saat ini. Siswa yang hidup tumbuh dan berkembang pada masa milenial menghadapi tantangan dan berbagai perubahan yang begitu cepat sehingga dibutuhkan penyesuaian guru-guru geografi menghadapi tantangan yang harus dihadapi. 

Secara bijak dengan menyesuaikan dan menciptakan kelas milenial pada mata pelajaran geografi sebagai bagian dari menjaga eksistensi geografi itu sendiri. Geografi harus tetap ada dan berkembang sesuai masanya. Guru-guru yang menyukai dunia kreativitas dan menulis harus berperan menjaga keberadaanya sehingga setiap perubahan kurikulum selalu dianggap penting bagi setiap perubahan itu sendiri. Begitu pula, mata pelajaran geogafi memberikan kontribusi terhadap perencaan dan tindakan terhadap generasi milenial ini untuk memperoleh kecakapan hidup yang lebih bermanfaat dan bermakna.  




Buku karya bersama (bukabe) sebagai hasil kolaborasi dalam program gugel (guru geografi menulis). Ini sebagai karya ke 2 setelah sebelumnya sudah diterbitkan. Gugel 1 dengan judul Mutiara Khatulistiwa: Kisah Inspiratif Guru Geografi se Indonesia yang diterbitkan oleh Ae Publishing Malang di Bulan Mei Tahun 2018. Buku kelanjutan dari gugel 1 sedikit berbeda dalam isi dan kontributornya. Kisah-kisah guru-guru geografi kreatif ini jangan sampai berhenti pada guru tersebut saja namun harus disebarkan kepada guru-guru geografi lainnya. Guru harus terus berkarya sehingga akan tetap bertahan dan mampu bersaing dimanapun berada. 
Menyebarkan "virus" positif kepada guru geografi yang ingin menulis dan ikut melibatkan diri sehingga ide dan inspirasinya dapat dibagi. Kepedulian sesama guru geografi terus dikembangkan seperti bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Indahnya guru menerapkan ide-idenya pada pembelajaran kepada siswanya seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Terus mengalir sampai kemuaranya. Keberhasilan pembelajaran dengan indikator pencapaian tujuan pembelajaran yang dituliskan. Menyenangkan, bermakna, kebersamaan, kepedulian dan kolaborasi dibangkitkan sehingga pembentukan karakter siswa berkembang.
Bakat dan minatnya siswa teraktualisasi pada karya yang dihasilkan. Menantikan kehadiran guru selalu dinantikan setiap waktunya. Kebersamaan tidak akan hilang dan selalu melekat. Seperti kebersamaan antara pelangi yang menyatu dengan atmosfer setelah hujan rendah akibat pembiasan. Keindahan itu terjadi secara alami.

Kelas-kelas yang ada mata pelajaran geografinya akan selalu hadir guru-guru geografi milenial. Milenial yang disesuaikan dengan perkembangan zaman sesuai generasinya. Pengalaman dan kisah di buku akan menjadi berbagai rujukan, kajian, referensi bagi calon guru, guru dan dosen untuk menerapkannya di kelas-kelas lainnya. 
 
Semua ide dan inspirasi yang ditularkan guru geografi Indonesia menjadi bukti bahwa geografi itu masih ada dan bermanfaat untuk kemajuan untuk negeri ini. Geografi sejak dulu sudah berliterasi dengan mencatat semua perjalanan yang dilakukan oleh pendahulunya. Apakah literasi akan hilang dari geografi. Bahwa literasi tidak akan hilang dari geografi dan literasi akan menguatkan keberadaan geografi itu sendiri. Geografi menjadi bagian penting dari gerakan literasi dan berliterasi akan menjadikan guru georafi Indonesia semakin maju dan mampu bertahan dan bersaing dengan perubahan zaman. 
“Berliterasilah Guru Geografi Indonesia di Kelas Milenial”




Medan, 15 September 2018

 
KELAS MILENIAL GEOGRAFI
Ketebalan xx + 234
Ukuran 14 x 21 cm
ISBN: 9786025150296Penerbit One Peach Media Jakarta

Info buku: 085763642244

LITERASI, MIMPI, MEDALI DI AJANG OSN

Kalungkan Medali di Ranah Minang
"Aku ingin makan rendang di Padang, kalau dirimu apa rencana nantinya"
"Saya cuma ingin dikalungkan medali OSN di Padang nantinya"
"Kalau Aku ingin membahagiakan orangtua untuk meraih cita-cita kuliah di UI"

Itulah mimpi-mimpi yang ingin dicapai oleh siswa/i Kota Medan yang akan berangkat ke ajang nasional untuk siswa/i se Indonesia. OSN sebagai ajang dambaan siswa karena disana sebagai jalan untuk memudahkan meraih cita-cita di Perguruan Tinggi Negeri pilihan hasil meraih medali. 

Jonni Siallagan bersama 
Kepala SMKN 2 P. Siantar
Buku Kalungkan Medali Ranah Minang (KMRM) sebagai buku karya bersama (bukabe) berbentuk motivasi diri siswa sendiri dari berbagai sekolah di Kota Medan yang akan mengikuti seleksi di Olimpiade Sains Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018. Penyusunan bukabe KMRM dilakukan bersamaan pada kegiatan pembekalan peserta sebelum berangkat pada seleksi OSP pada 16-18 April 2018. Pada Kamis, 12 April 2018 dengan berbagai arahan, bimbingan, motivasi oleh Kepala UPT Medan Selatan, Fahruroji (CEO/Owner POSI). 

Dari kegiatan pembekalan peserta, terkumpulah tulisan siswa dari SMA Sutomo 1 Medan, SMA Sutomo 2 Medan, SMA Metodist 3 Medan, SMA Dr. Wahidin Sudirohusodo Medan, SMA Santo Thomas 1 Medan, SMAN 1 Medan, SMAN 3 Medan. Beberapa Kepala SMA Negeri/Swasta, beberapa pembina/pelatih Olimpiade Sains di Kota Medan juga turut serta berpartisipasi untuk menjadi kontributor tulisan dengan motivasi-motivasinya. Ini sebagai catatan untuk saling memotivasi agar mimpi-mimpi yang diharapkan akan mudah tercapai pada ajang OSN nantinya. Penulisan buku dilaksanakan di Aula SMAN 3 Medan sebagai fasilitator lokasi kegiatan.

Kalungkan Medali di Ranah Minang (KMRM) diterbitkan oleh Penerbit Ernest Kendal Jawa Tengah di dukung oleh MKKS SMA Kota Medan, UPT (Cabang Dinas/Sekarang) Medan Utara dan Medan Selatan, POSI (Pelatihan Olimpiade Sains Indonesia), APPOS (Asosiasi Pembina dan Pelatih Olimpiade Sais) Sumatera Utara. Kolaborasi ini juga sebagai bagian dari menggerakan Literasi di Kota Medan dan Sumatera Utara.

KMRM di atas Tanaman
Berliterasi sejak dini dengan menerbitkan buku sebagai upaya bersama-sama untuk mengerakan literasi di semua komponen pendidikan. Kepala sekolah, guru, siswa dan keterlibatan berbagai pihak akan menjadikan gerakan literasi akan membudaya bidan. Berliterasi bukan saja membaca, menulis namun bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya menonton, mendengarkan, menjelaskan dan menganalisis berbagai permasalahan yang ada. Literasi sebagai modal kecakapan hidup dimasa akan datang yang penuh persaingan.  Dengan berkolaborasi dan komunikasi yang terarah akan menjadikan literasi terus bergerak. 

Meraih cita-cita melalui OSN dengan meraih medali harus dibekali dengan literasi. Semakin kokoh literasinya maka akan semakin berpeluang meraih medali setiap kompetisi yang diselenggarakan. OSN sebagai ajang kompetisi tahuan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Selain OSN, Direktorat PSMA juga menyelenggarakan berbagai kegiatan berbasis literasi misalnya OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia), LDBI (Lomba Debat Bahasa Indonesia) dan sebagainya. Untuk itu, dengan berliterasi, mimpi meraih medali diberbagai ajang bergengsi akan mudah tercapai. OSN, OPSI dan LDBI sebagai jalan meraih mimpi dan cita-cita bersama. 

"Literasi, Mimpi, Medali Menyatu dalam Hidup Kita"


Medan, 15 September 2018