Tampilkan postingan dengan label Artikel/Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel/Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Desember 2013

AKHIRNYA, TULISANKU TERBIT DI KOMPAS

Alangkah senangnya jika sebuh tulisan di muat di koran, apalagi terbitan nasional. Itulah yang terjadi pada saya sebagai  seorang yang mulai suka belajar menulis artikel. Mimpi yang selama ini belum terwujud menjadi kenyataan karena artikel yang saya tulis muncul di harian Kompas di kolom Kompas Klasika Sumbagut terbitan 11 Desember 2013 (11-12-13). Tanggal ini begitu berkesan dan menjadi sejarah dalam biografi saya.

Artikel ini berisi tentang durian yang menjadi bahan olahan untuk makanan dan minuman. Artikel ini ditulis sebelum pada akhir tanggal pengiriman. Artikel ditulis dalam dua waktu yang berbeda, namun penulisan awal hanya judulnya saya namun belum mendapatkan ide apa yang mau ditulis. Diakhir pengiriman ke Email : klasika.zonasumbagut@yahoo.com artikel ini dikerjakan dalam dalam waktu singkat karena sudah ada ide apa yang ingin dituliskan selama 1 minggu dan mencari foto sebagai lampirannya untuk mempertagas isi artikel. 

Berbagai referensi, observasi lapangan serta pengalaman sendiri mengunjungi tempat-tempat pengolahan makanan dan minuman dari durian ini.  Maka ide itu terus mengalir begitu saja sehingga mudah untuk diselesaikan. Walau saat pengiriman beberapa kali dikirimkan ke email karena ada yang kurang terkait data penulis dan jaringan internet yang mengganggu. Artikel ini merupakan artikel ke 2 yang saya tulis untuk dimuat di kolom klasika sumbagut, namun yang kedua baru dimuat oleh tim redaksi. Artikel pertama tidak dimuat dan mungkin menurut redaksi ada pengirim yang lebih baik dari artikel yang saya tulis. Setelah saya baca artikel yang dimuat itu merupakan orang lain saya menjadi kecewa. Saya baca artikel yang dimuat pada tanggal 4 Desember 2014 itu terkait dengan Berbelanja Pakaian di Sumatera Utara dan Aceh, emang layak untuk dimuat dibandingkan dengan artikel yang saya buat. Pada tanggal 27 Nopember 2013 juga artikel yang dibuat juga bagus tentang Kopi dan pemenang tulisan tersebut dari Aceh dan juga bagus untuk diterbitkan oleh redaksi. Saya ingin menulis artikel saat tema tentang kopi namun waktu dan ide yang belum ada sehingga tidak bisa menuliskan artikelnya.

Kolom ini terbit setiap rabu, ketika tulisan pertama dikirim, saya menantikan apakah tulisan saya terbit, namun bukan saya, dan hari rabu selanjutnya yang dinantikan ternyata mengejutkan sekali karena judul artikel ini muncul dan langsung mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan ekpresi di depan istri tersayang. Dan istri pun mengucapkan selamat kepada saya karena artikel itu dimuat. Kebahagian ini begitu terasa karena mimpi yang selama ini diidamkan terwujud. Karena baru kali ini tulisan saya dimuat di koran dan terbitan nasional walau ini hanya khusus untuk wilayah sumatera utara dan aceh. Bukan hadiah yang saya harapkan jika tulisan artikel ini dimuat, namun kebanggaan tersediri karena saya pernah berkarya dan dihargai oleh tim redaksi kompat klasika. Hadiah berupa voucher sepatu sebagai bentuk apresiasi kepada penulis artikel, saya tukarkan ke pihak sponsor dari kolom ini. 

Semoga tulisan ini bisa dapat bermanfaat bagi yang lain untuk menjadi referensi serta contoh bagi penulis-penulis baru seperti saya. Karena apa yang saya lakukan ini berkat dukungan dari orang-orang yang mencintai saya untuk terus berkarya. Terima kasih untuk  semuanya termasuk KOMPAS. "YOU ARE NOT ALONE".

Kamis, 11 Juli 2013

Mengapa Kurikulum 2013 Dilaksanakan

 
Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan kurikulum 2013 adalah dua hal yang menjadi topik pembicaraan saat bertemu dengan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang baru, Harris Iskandar Ph.D di ruang kerjanya. Selaku Direktur, banyak kegiatan yang sudah menanti dan kesibukkan ini mencerminkan bahwa SMA memiliki aktivitas yang perlu memeroleh  pembenahan dan perhatian yang lebih serius lagi. 
Usai  bertemu dengan Pasiad (sebuah lembaga pendidikan dari Turki), untuk melakukan kerjasama alam bentuk MoU dalam  penyelenggaraan ISPRO (International Sains Project), yang hampir sama dengan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), Direktur juga bertutur tentang mengapa kurikulum 2013 dilaksanakan. Ada pun ISPRO sendiri menurutnya seiring sejalan dengan perubahan kurikulum sekarang, sebab project base sains para siswa Indonesia akan menuju ke arah yang lebih berpikir. Sedangkan pelaksanaan ISPRO sendiri bisa di Indonesia atau berpindah-pindah negara.
OSN, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan kegiatan lainnya yang selama ini sudah berjalan dengan baik, menurut Direktur tetap dilanjutkan. “Bahkan, setiap cabang itu harus punya target kinerja, misalnya memeroleh medali emas. Tiap cabang itu minimal satu emas, kalau yang sudah biasa satu ya, dualah untuk tahun 2013 ini. Hal ini saya sudah sampaikan kepada para pembina. Kalau tidak, bisa terjadi reorganisasi mengenai  cara pembinaan dan mungkin pembinanya harus diganti.” Tegasnya.  
Revisi Peraturan
Revisi peraturan untuk olimpiade-olimpiade itu akan diperluas, artinya, kejuaraan internasional yang bukan diselenggarakan oleh pemerintah pun harusnya masuk kedalam hitungan pemerintah. Sekarang ini  yang tidak disiapkan oleh pemerintah tidak diakui, sebaiknya persepsi seperti itu dihentikan. Tak ada salahnya untuk mengakuinya sebab itu adalah bentuk dukungan. “Begitu juga dengan lomba-lomba lainnya, seperti debat bahasa Inggris, serta kompetisi-kompetisi internasional di mana kita juga meraih medali namun  tidak masuk dalam hitungan kita. Tokh mereka juga bangsa Indonesia. Semua komponen bangsa juga Indonesia, jadi setidak-tidaknya diakui.” Harapnya.
Di samping itu, Harris Iskandar juga menjelaskan tentang revisi peraturan menteri berkaitan dengan  pemenang-pemenang OSN yang akan masuk di dalam universitas-universitas negeri di Indonesia. Menurutnya, para rektor harus melakukan recruitment talent, sebab itu sangat penting. Selama ini mereka sudah melakukan kompetisi yang cukup ketat, contohnya Universitas Indonesia (UI), selection rationya  8 persen, lebih ketat daripada Harvard, sebab demand di sini tinggi, jadi perguruan tinggi bersikap seperti itu, sementara  kesadaran akan produktivitas sebuah universitas itu dari talentnya. “Kalau di universitas luar negeri sudah sadar betul, mereka aktif mencari talent-talent yang jenius itu, termasuk juara-juara sains kita. Mereka ditawari masuk ke universitas di sana, contohnya seperti Singapura, Amerika dll. Kemudian terjadi insiden seperti drop out siswa jebolan OSN di ITB,  ternyata dia tidak bisa di mata kuliah lainnya. Hanya fokus di mata kuliah itu, nah hal ini dalam pembinaannya yang harus dirubah, jangan sampai model pembinaan di China diberlakukan di sini, di sana kan sistem pembinaannya berlangsung setahun, jika terus begitu, maka mata pelajaran lainnya akan terlupakan, jadi tidak seimbang. Si anak jadi tidak berkembang. Pola pembinaan juga penting, jangan nanti anak itu kemudian terisolir dari dunianya.” Ujarnya.
Menurut Harris, OSN sudah bagus dilaksanakan dengan berjenjang, dana dari Pemda bisa digunakan untuk itu, UUnya pun sudah ada, yaitu UU Pendidikan Tinggi No. 12 tahun 2012 yang tertulis;  dana Pemerintah Daerah boleh untuk menunjang perguruan tinggi artinya menganggarkan ke perguruan tinggi sudah boleh, hal ini untuk membantu olimpiade. Dan ini juga sama dengan memajukan   daerahnya. Karena kalau semuanya terkonsentrasi di pusat, apa artinya desentralisasi? Maksudnya supaya semua elemen turut berpartisipasi sebab saat ini gaung OSN di beberapa daerah kredibilitasnya meningkat. “Jadi perhitungkan itu, kalau siswa dapat medali di OSN, itu kan suatu kebanggaan dan Pemda akan tergerak untuk memberikan bantuan dalam pembinaan sekolah-sekolah di daerahnya. Memang itu yang kita harapkan. Itu impian semua sekolah.” Tegasnya.
Kurikulum 2013
Ada tiga program dalam kurikulum 2013 yang perlu ditambahkan dan diamanatkan  untuk SMA, pertama Pendidikan Menengah Universal (PMU),  kedua Kurikulum 2013, Ketiga Anti Tawuran/kekerasan.  Program Pendidikan Menengah Universal sebanyak mungkin memberikan peluang bagi anak usia sekolah untuk bersekolah. Mereka bisa memasuki sekolah formal maupun non formal. “Bahkan saya sedang menjajagi SMA Terbuka yang dulu pernah ada. Dan intervensi di program perluasan PMU ini adalah Unit Sekolah Baru (USB), Ruang Kelas Baru (RKB), BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan BSM (Bantuan Siswa Miskin). Itu instrumen policynya.  Sedangkan target untuk konstruksi kelas baru, saat ini baru mencapai 500-600 milyar, sedangkan targetnya 4 trilyun. Jadi tidak cukup, jika ada sponsor, itu langkah yang bagus. Mereka, para sponsor itu, kita abadikan nama-nama mereka di ruang kelas. Karena dengan begitu nama-nama yang menyumbang akan dikenang terus. Nama itu terukir dan tetap tetap ada. Program ini terus berjalan sampai tahun 2020.” Terangnya.
Kurikulum baru ini akan diimplementasikan mulai tahun ajaran 2013, paradigmanya, di negara lain disebut kurikulum pembelajaran abad 21. Sebab disadari  atau tidak, para siswa Indonesia sudah hidup pada jaman yang berbeda, dan sekarang ini, ada gap antara generasi muda dengan yang tua, era teknologi pun menggiring mereka untuk selalu memanfaatkan keberadaan teknologi yang dari waktu ke waktu berkembang dengan cepatnya. “Jadi, jika kita tidak berubah mengikuti perkembangan jaman, kita akan ketinggalan, Kita menyiapkan mereka/para siswa untuk menyongsong masa depan, dan hampir di semua lapangan pekerjaan diisi dengan mereka yang berpendidikan S1. Jadi perkembangan ke depannya sangat luar biasa.  Kurikulum baru ini disiapkan lebih fleksibel, bahkan di perguruan tinggi kita memasukkan Kerangka Kualisifikasi Indonesia (KKI) dan sudah didisain sepuluh tahun yang lalu.” Ucap Harris Iskandar. 
Dalam wawancara, Direktur Pembinaan SMA menjelaskan, bahwa di dalam pendidikan  ada pendidikan akademik, vokasi, dan profesi, sekarang ini, ketiganya jalan sendiri-sendiri dan rigid. Sedangkan di KKI lebih fleksibel dan bisa saling mengakui, semuanya paralel, itu sama dengan S1, bahkan di situ  ada S1 terapan, S2 terapan, dan S3 terapan. Nah di bawahnya, SMA-SMK. Dengan kurikulum ini kita mempertipis perbedaan SMA dan SMK. Poinnya adalah, di sekolah menengah itu memersiapkan anak supaya mandiri dan menjadi manusia dewasa, lalu masuk ke perguruan tinggi. Sedangkan SMK lebih ke menghukum masyarakat, menstratifikasi masyarakat secara ekonomi, karena mayoritas siswa  SMK itu berasal dari golongan menengah ke bawah. Jarang ada orang kaya yang memasukkan anak-anaknya ke SMK, sehingga ada anekdot SMK itu disebut sebagai Sekolah Menengah Keponakan. “Jadi kalau dari kampung titip keponakan ke kita,  anak kita masuk SMA sedangkan keponakan masuk SMK saja biar cepat kerja. Ini stigma masyarakat, sistem kita juga demikian, sekolah itu untuk menengah ke bawah. SMK bukan semata-mata minat anak untuk dialokasi, karena ingin cepat kerja, itu tidak demikian.” Paparnya.
Penjurusan  SMA Dihilangkan
Dengan adanya kurikulum 2013 jarak SMA dan SMK semakin dekat, karena ada 24 mata pelajarannya yang sama, yauti kelompok wajib 6 mata pelajaran. Khusus SMA penjurusan dihilangkan, ‘penjurusan’ itu juga sebenarnya dinding tebal dan dirubah menjadi ‘peminatan’, dengan adanya kata ‘peminatan’ dinding tebal menjadi dinding yang tipis. Dalam kurikulum ini, siswa di jurusan IPA boleh mengambil mata pelajaran ekonomi, di samping mata pelajaran bahasa. Selain itu juga diberlakukan sistim SKS (Sistem Kredit Semester). 
Kepala Sekolah menjadi challengenya ia menerapkan beragam manajemen, yaitu, manajemen pembelajaran, manajemen recources, dan manajemen sekolah. Sekarang implikasinya sudah terlihat, hampir semua siswa memilih jurusan IPA, padahal secara nasional 65% IPA, 30% IPS , dan 5% Bahasa. Itulah sebabnya penjurusan dirubah ke peminatan dan dalam hal ini yang dirubah strukturnya. Kurikulum untuk abad 21 spesifikasinya diperluas, di situ ada kemampuan IT yang harus dimiliki tiap siswa khususnya dalam komunikasi, kemudian kemampuan life skill serta kemampuan social skill atau beradaptasi, faktor itu di dunia kerja memeroleh nilai yang tinggi. Yang tak kalah pentingnya,  topbility seseorang harus bagus, sebab saat ini spektrumnya lebih lebar. 
Learning kognitif  di kurikulum 2013  ini lebih mendalam,  jadi dalam pembelajaran, berbagai pokok bahasan diharapkan si guru yang pandai dalam mendelivery ilmunya itu jangan semuanya deduktif, harus ada discovery learning, inquiry. “Guru jangan menyuruh anak untuk menghafal rumus lalu mengerjakan soal, akibatnya kelak si siswa akan menjadi pekerja saja. Tapi lebih kepembelajaran, dicoba kunci-kuncinya sehingga  sampai pada kenyataan pada faktor-faktornya, pokoknya pendekatan yang dilakukan lebih ke project base. 
Ada dua ciri yang paling utama dalam kurikulum abad 21, yaitu kolaborasi  dan creativity, para pendidik mengembangkan kreativitas anak  dan berkolaborasi. Karena abad ini adalah abad kolaborasi, abad persaingan sudah tertinggal, sebab di bawah persaingan itu adalah kolaborasi.” Tambah Harris Iskandar.  Dengan padatnya waktu dalam mengikuti proses belajar mengajar, maka kemungkinan tawuran terhindarkan, siswa lebih banyak berada di sekolah, berdiskusi, membaca di perpustakaan dan melakukan pengembangan diri lainnya, dengan demikian pendidikan karakter bangsa juga tumbuh dalam diri mereka. Fanny J.Poyk
 
Sumber : http://124.81.93.52/home/opini_detail.php?id=MTQ3

Selasa, 06 November 2012

Pemenang Artikel Parade Cinta Tanah Air 2012


Panitia Parade Cinta Tanah Air (PCTA) 2012 akhirnya berhasil memilih 33 pemenang lomba artikel PCTA 2012 dari masing-masing propinsi. Juara I tiap propinsi ini akan diundang hadir mengikuti prosesi grand final lomba artikel PCTA 2012 di Jakarta, Senin – Rabu, 5 – 7 November 2012. Inilah jawara propinsi selengkapnya.
1. Nanggroe Aceh Darussalam – Mohd Harith (Paskibraka Membangun Nilai Karakter Bangsa), SMA DKI Jakarta Banda Aceh.
2. Sumatera Utara – Dina Frastiwi (Cinta Tanah Air Dan Rasa Persatuan sebagai Pembentukan Karakter Bangsa Bagi Generasi Muda), SMK Negeri 1 Percut Situan.
3. Sumatera Barat – Rima Pratiwi Fadli (Penanaman Cinta Tanah Air Melalui Pendidikan Karakter), SMA Negeri 1 Lubuk Alung.
4. Riau – Hayatin Nufus (Mengembalikan Nilai Karakter Bangsa Anak Muda Kampar), SMA Negeri 2 Bangkinang.
5. Kepulauan Riau – Kasmawati (Menanamkan Sikap Cinta Tanah Air dan Membangun Karakter Bangsa Yang Baik Sejak Dini), SMK Negeri 2 Batam.
6. Jambi – Purwa Kresna Aji Wijaya (Pentingnya Cinta Tanah Air
Jiwa Patriotisme dan Nasionalisme), SMA Negeri 12 Merangin.
7. Bengkulu – Lensaf Nita (Membentuk Karakter Perlajar Melalui Pendidikan Moral), SMA Negeri 7 Seluma.
8. Sumatera Selatan – Muhammad Dedy Saputra (Pendidikan Budi Pekerti Dalam Membangun Karakter Bangsa), SMA Negeri 2 Sekayu.
9. Lampung – Fitri Lestari (Karakter Pemuda dan Pemudi Indonesia di masa Pembangunan), SMA Negeri 1 Way Jepara.
10. Bangka Belitung – Hasna Jamilah (Pentingnya Generasi Muda Berkarakter, untuk Mempertahankan Sikap Cinta Tanah Air), SMA Negeri 1 Pangkalpinang.
11. Banten – Rayyan Raima Zuriyyatina (Altruisme Sebagai Perwujudan Rasa Cinta Tanah Air), SMAN 1 Kota Serang.
12. DKI Jakarta – Nikita Apriani (Apa Karakter Bangsa Indonesia? Pemersatu atau Pemisah), SMA Negri 21 Jakarta Timur.
13. Jawa Barat – Alice Felicia Jonathan (Merekatkan Kepingan Jambrud), SMAK 2 Penabur Bandung.
14. Jawa Tengah – Lare Demetria Agiasti (Membangun Toleransi Dalam Kemajemu-kan Untuk Meningkatkan Persatuan Bangsa Melalui pendidikan Karakter), SMA Kesatrian 1 Semarang.
15. DI Yogyakarta – Galih Sekarningrum (Anak Muda Dan Pembentukan Karakter Bangsa), SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
16. Jawa Timur – Mochamad Arief Wicaksono (Bangsaku Mencintai Tanah Air), SMA Negeri 10 Malang.
17. Bali – Nyoman Ragil Teguh Darmadika (Mengembalikan Karakter Bangsa Indonesia dengan Gerakan generasi Muda), SMA Negeri 2 Tabanan.
18. Nusa Tenggara Barat – Syarifa Soraya Fairuzha (Membangun Karakter Cinta Tanah Air untuk Mewujudkan Identitas bangsa Melalui Pendidikan Keluarga), SMA Negeri 1 Mataram Lombok.
19. Nusa Tenggara Timur – Fransiska S. Gae (Menciptakan Generasi Muda Berkarakter dan Cinta Tanah Air di Kota Perbatasan), SMA Negeri 10 Kupang.
20. Kalimantan Barat – Dewi Hartinah (Generasi Penerus Bangsa Yang Berkarakter), SMKN 7 Pontianak.
21. Kalimantan Selatan – Aina Rachmasari (Pemuda Sebagai Agent of Change), SMK Negeri 3 Banjarmasin.
22. Kalimantan Tengah – Anggita Fathrah (Cinta Tanah Air), SMA Negeri 1 Kuala Kapuas.
23. Kalimantan Timur – Fitria Noriza (Generasi Muda Pembangun Karakter Bangsa), SMA Negeri 1 Tenggarong.
24. Sulawesi Utara – Errina Febrianti Kaunang (Karakter bangsa Dan Bela Negara), SMA Kristen 1 Tomohon.
25. Gorontalo – Suwardi Rahman (Pendidikan Modal Utama Pembangunan Karakter Bangsa), SMK Negeri Model Gorontalo.
26. Sulawesi Tengah – Fatimah (Pembelajaran Berbasis Nilai Untuk membangun karakter Bangsa), SMKN 1 Palu.
27. Sulawesi Barat – Mutmainah Ahmad (Karakter Bangsa Dan Cinta Tanah Air), SMAN 1 Mamuju.
28. Sulawesi Selatan – Lestary Jakara Barany (Energi Positif Anak Muda Produktif), SMA Katolik Rajawali Makassar.
29. Sulawesi Tenggara – La Ode Muh. Fadlun Akbar (Pendidikan Karakter Untuk Menciptakan Generasi Emas Indonesia), SMAN 4 Kendari.
30. Maluku Utara – Lika Iriana Risda Putri (Pembiasan,Keteladanan dan Pendampingan merupakan Solusi dalam Membentuk Karakter Anak Muda Yang Berbudi Pekerti Luhur), SMA Negeri 8 Ternate.
31. Maluku – Iin Musairi (Pembangunan Karakter Bangsa untuk Persatuan Indonesia), SMA Negeri 13 Ambon.
32. Papua Barat – Soleman Kafiar (Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak Remaja), SMA YPK Imanuel Pasir Putih, Manokwari.
33. Papua – Mira Destriani Sari (Lunturnya Nasionalisme dan Persatuan Bangsa dalam Diri Generasi Muda Masa Kini), SMA Negeri 4 Jayapura.

Parade Cinta Tanah Air (PCTA) 2012 diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan RI dan didukung Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat

Sumber : http://paradecintatanahair.wordpress.com/2012/11/04/dan-inilah-pemenang-artikel-pcta-tingkat-propinsi/#more-214

Sabtu, 07 Januari 2012

Lomba Menulis Artikel Online 2012

Ayo…Ikuti ajang kompetisi lomba menulis artikel online 2012, dengan mengangkat tema:
“Jasa Penulisan Artikel, Solusi Google Panda”
PERSYARATAN:
  1. Peserta adalah blogger Indonesia yang memiliki blog dengan Top Lavel Domain (.com/.net/.info/.org/web.id)
  2. Menulis Artikel Bahasa Indonesia
  3. Gaya bahasa bebas (formal, semi formal, gaul)
  4. Panjang artikel min 700 kata
  5. Mengirimkan LINK POSTINGAN yang merupakan karya peserta sendiri dan belum pernah dipublikasi
  6. Judul Artikel Mengankat tema: SEO, Cara meningkatkan traffic/kunjungan/ranking di blog/website, isu Google panda, Google dancing, Google Adsanse, Paid to Review, Affiliate Amazon, ClickBank, dsb
  7. Website yang di review adalah http://www.jasapenulisanartikel.com. Peserta bisa medeskripsikan keunggulan, kualitas, layanan, serta memfaat menggunakan jasa penulisan artikel seperti misalnya SOLUSI EFISIENSI WAKTU
  8. Mencantumkan 1 link/Anchor teks (Penulis/Penulis Artikel/Jasa Penulis Artikel/Jasa Penulisan Artikel/Jasa Artikel/Jasa Penulis/Penulis Freelance/Penulis Content/Penulis Konten) dan di arahkan menuju website http://www.jasapenulisanartikel.com.
  9. Contoh Judul Artikel:
- 7 Trik jitu atasi amukan Google Panda
– Cara Dahsyat Meningkatkan Traffic Website dalam 7 hari
– Jasa Penulisan Artikel, Solusi Google Panda
– Jasa Penulisan Artikel: Cara Mudah Meningkatkan Jumlah klik Iklan Adsense Anda..dsb
 KRITERIA PENILAIAN:
  1. Kesesuaian dengan TEMA
  2. Kreativitas pengolahan ide
  3. Solusi yang konkrit
  4. Kaidah penulisan
HADIAH:
  • Juara I: Rp 500.000,- (+ Bonus 15 Review Blog Indo)

  • Juara II: Rp 350.000,- (+ Bonus 10 Review Blog Indo)

  • Juara III: Rp 150.000,- (+ Bonus 5 Review Blog Indo)

KETENTUAN MENGIKAT:
  1. Keputusan DEWAN JURI tidak bisa diganggu gugat.
  2. Panitia tidak MELAYANI SURAT-MENYURAT.
  3. DEWAN JURI berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat) atau mengikuti lomba sejenis atau telah dimuat di koran/majalah.
  4. Link Postingan dikirim ke email: lombamenulis@ymail.com dengan subjek email: LOMBA MENULIS ARTIKEL BLOG REVIEW 2012 dan dikirim selambat-lambatnya: 31 Maret 2012.
  5. Pemenang lomba akan diumumkan 2 bulan setelah penutupan lomba (1 Juni 2012).
  6. Kontak SMS: 081999399833/Call: (0361) 8223311
 
Sumber : http://ajangkompetisi.com/lomba-menulis-artikel-blog-review-2012.html#more-5448

Selasa, 12 Oktober 2010

PENERAPAN PEMBELAJARAN LINGKUNGAN HIDUP YANG INOVATIF DI SMA


PENERAPAN PEMBELAJARAN LINGKUNGAN HIDUP 
YANG INOVATIF DI SMA


A. Pendahuluan
Saat ini kita sedang menyaksikan suatu transisi cakrawala yang tak terbatas ke pencarian keseimbangan dalam ruang yang sempit atau bahkan yang tak terbatas. Pada intinya, dunia berada dalam masa transisi di mana bentuk sosial, tata cara yang berlangsung, serta nilai-nilai akan berlalu sebelum bentuk-bentuk dan metodologi baru punya waktu yang cukup untuk menggantikannya (Soerjani, 2000: 28-29). Dalam hal ini terjadi interaksi yang rumit, di mana jalinan interaksi lokal tidak lagi dapat dibedakan dengan jalinan interaksi dalam skala global. Dalam hal ini terjadi interaksi yang rumit, di mana jalinan interaksi lokal tidak lagi dapat dibedakan dengan jalinan interaksi dalam skala global. Hal tersebut berdampak pada munculnya gaya hidup kosmopolitan, munculnya pola konsumsi dan konsumerisme global, menurunnya kedaulatan negara bangsa, tumbuhnya sistem militer global (pasukan multi nasional), pengakuan tentang terjadinya krisis lingkungan dunia, berkembangnya masalah-masalah kesehatan berskala dunia (seperti penyakit AIDS), munculnya lembaga-lembaga politik dunia (seperti PBB), munculnya gerakan-gerakan pilitik global, perluasan konsep hak-hak asasi manusia, dan interaksi rumit antar berbagai agama dunia.
Dampak dari proses ini adalah beban yang cukup berat bagi sumber daya alam dalam proporsi yang memacu pada ketergantungan dan pertentangan baru yakni eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, terjadinya limbah, pencemaran, dan kemiskinan. Permasalahan kerusakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan, kemudian merebak secara global. Data menunjukkan bahwa sekitar 29% lahan bumi mengalami penggurunan antara ringan, sedang, dan parah, sedangkan 6% lainnya diklasifikasikan sangat parah. Hutan tropis yang mencakup 6% luas permukaan bumi namun memiliki keanekaragaman hayati tinggi yaitu sekitar 50% dari jumlah spesies yang ada keadaannya cukup memprihatinkan. Antara 7,6 sampai dengan 10 juta hektar pertahun mengalami kemusnahan dan masih terus berlanjut hingga saat ini. Selain itu, pembakaran bahan bakar fosil melalui tingkat pertumbuhan industri memberikan kontribusi yang besar terhadap akumulasi CO2 di atmosfer. Akibat dari akumulasi tersebut, suhu permukaan bumi naik antara 1,5-4,5o C yang memungkinkan peningkatan permukaan laut antara 25-40 centimeter sebagai konsekuensi dari pencairan es di daerah kutub. Penggunaan nuklir sebagai alternatif energi fosil memberikan dampak terhadap kebocoran reaktor seperti yang terjadi di Chernobyl (World Commission on Environment and Development, 1995).
Hasil studi menunjukkan bahwa penyebab berbagai gangguan yang terjadi di planet bumi berakar dari tabiat dasar manusia sebagai imperialis biologis di mana ia memerlukan makan dan berkembang biak, tanpa peduli keterbatasan sumber daya alam dalam menyediakan kebutuhan hidup bagi diri dan keturunannya (Chiras, 1991:458). Tabiat ini membentuk mental yang berpandangan bahwa manusia diciptakan untuk menguasai alam serta keberadaan alam itu sendiri tidak terbatas. Temuan tersebut diawali oleh preposisi Malthus bahwa pertumbuhan penduduk akan mengikuti deret ukur sedangkan pertumbuhan pangan mengikuti deret hitung (Todaro, 1995: 275-277). Pada suatu saat sumber daya alam tidak dapat lagi mendukung kebutuhan manusia, sehingga akan terjadi kelaparan, kekurangan gizi, wabah penyakit, bencana alam, dan sebagainya yang dapat menyebabkan penderitaan berkepanjangan. Hasil studi lainnya, yaitu Meadow et.al. (1972: 130-134) menunjukkan bahwa kualitas lingkungan hidup akan menurun secara drastis sampai pada titik kerusakan, jika pola konsumsi manusia tetap sejalan dengan garis eksponensial.
Komitmen tentang pengelolaan lingkungan seperti yang di ungkapkan melalui deklarasi Stockholm Tahun 1972 yang dilanjutkan dengan deklarasi Rio Tahun 1992 belum dapat menjadi instrumen yang efektif dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan yang terjadi. Negara-negara yang tercakup di dalamnya belum dapat melaksanakan sepenuhnya komitmen tersebut. Berbagai kendala menghambat konsistensi pelaksanaan kesepakatan di atas, antara lain masih rendahnya kesadaran tentang pengelolaan lingkungan hidup di samping kebutuhan ekonomi yang mendesak sehingga mengabaikan faktor-faktor lingkungan.
Berbagai permasalahan di atas merupakan tantangan bagi pengembangan pendidikan untuk dapat memberikan kontribusi terhadap pembentukan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Hal ini disebabkan, pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran yang dilakukan secara integratif untuk membantu peserta didik dalam hal antara lain memahami lingkungan dengan tujuan akhir meningkatkan perlindungan dan sikap bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Di samping itu, juga merupakan dasar dalam proses pemecahan masalah lingkungan hidup dengan dasar filosofis keseluruhan, kelestarian, peningkatan dan pemeliharaan agar semuanya menjadi lebih baik (Fien et al., 1997).
B. Pembahasan
1. Potensi Sumber Daya Alam
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terletak di antara 940 05’ BT-1410 01’BT dan 60 08’ LU-110 05’LS. Terdiri dari 17.850 pulau, 7.667 pulau sudah memiliki nama dan 931 pulau berpenghuni penduduk. Luas lautan yang dimiliki sekitar 5,8 juta km2 atau 70% dari seluruh wilayah, terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan Nusantara, dan 2,7 juta perairan Zona Ekonomi Eksklusif. Wilayah teritorial Indonesia membentang sepanjang 5.110 km dari Barat ke Timur dan 1.888 km dari Utara ke Selatan, serta membentuk garis pantai sepanjang 81.000 km. Luas daratan Indonesia kurang lebih 1.919.434 km2 mencakup 27 propinsi.
Secara fisiografis, Indonesia berada di wilayah pertemuan lempeng samudera Indo-Australia, Asia-Pasifik, dan darata Asia. Gerakan antarlempeng tektonik tersebut menimbulkan gejala alam berupa gempa, letusan gunung api, dan tsunami yang sering melanda wilayah perairan Indonesia. Selain itu, fenomena tersebut memberikan keindahan tersendiri bagi topografi wilayah yang merupakan pemandangan khas yang sangat menawan. Selain itu, terdapat 100 sungai yang panjangnya lebih dari 40 km, yaitu 28 di Irian Jaya, 25 buah di Kalimantan, 18 buah di Jawa, dan 12 buah di Sulawesi. Danau-danau yang besar terdapat 51 buah, yaitu 17 buah di Sumatera, 11 buah di Kalimantan, 10 buah di Irian Jaya, 4 buah di Bali, dan 1 buah di Lombok.
Sebagai negara kepulauan yang berada di ekuator, suhu wilayah Indonesia relatif stabil dan tidak ekstrim. Temperatur pada umumnya memiliki amplitudo yang relatif rendah dan memiliki kelembaban yang tinggi, antara 280 sampai dengan 380. Iklim kepulauan dipengaruhi oleh letak geografis yang terletak antara dua kontinen yaitu Asia dan Australia, keberadaannya di daerah khatulistiwa serta pola angin musim yang bertiup. Sebagian besar kepulauan Indonesia dipengaruhi oleh iklim tropis dengan dua musim, yaitu penghujan dan kemarau.
Hutan tropik yang terdapat di Indonesia merupakan terluas ketiga di dunia serta memiliki keanekaragaman ekosistem yang tinggi, mulai dari hutan hujan dataran tinggi sampai dengan hutan rawa yang terdapat di dataran rendah. Hutan rawa airtawar dan rawa gambut yang luas dapat dijumpai di Kalimantan, Sumatera, dan Irian Jaya. Kalimantan memiliki hutan kerangas terluas di Asia Tenggara, sedangkan Sulamesi memiliki hutan tanah ultrabasa terluas di dunia. Hutan pegunungan bawah dan atas, juga padang rumput alpin terdapat di puncah-puncak gunung tertinggi di Jawa, Irian, dan Sumatera.
Keanekaragaman tumbuhan yang terdapat pada hutan di Indonesia sangat tinggi. Terdapat 400 spesies merantai atau 70% dari spesies meranti di dunia, 122 spesies bambu dari 1200 spesies bambu yang tumbuh di muka bumi, dan memiliki jenis pohon palm yang terbesar di dunia. Hutan tropis Indonesia memiliki bunga besar yang langka yaitu Rafflesia yang dapat dijumpai di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Selain itu, terdapat 5000 spesies bunga anggrek yang merupakan kebangga bangsa Indonesia, diperkirakan setengahnya terdapat di Irian Jaya dan 2000 spesies di Kalimantan.
Hutan tropik Indonesia sekurang-kurangnya memiliki spesies hewan sebanyak satu juta spesies, atau sekitar 13-16% spesies hewan dunia. Di hutan hujan dataran rendah terdapat 30.000 spesies kumbang, 666 spesies capung, dan 122 spesies kupu-kupu. Dari lima badak yang tersisa di dunia, dua spesies di antaranya berada di Indonesia. Terdapat satu spesies gajah dari dua spesies gajah dunia, dan sekitar empat spesies hewan ternak liar Asia Tenggara satu di antaranya terdapat di Indonesia. Aneka burung Indonesia antara lain terdapat 13 rangkong patut, di antaranya rangkong kerdil Sulawesi, rangkong Sumba, dan rangkong badak. Endemisme burung di Indonesia sangat tinggi. Selain itu terdapat 75 spesies burung kaka tua, satu di antaranya adalah kakak tua raja yang termahal di dunia. Komodo, biawak terbesar dan tertua di dunia terdapat di pulau Komodo. Sekurang-kurangnya terdapat 500 spesies ikan tawar, d antaranya ikan arwana.Lumba-lumba air tawar atau lebih dikenal dengan nama pesut terdapat di sungai Mahakam Kalimantan Timur.
Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas yang terdapat di daerah tropis, tersebar hampir di seluruh pantai dan laut Indonesia terutama di perairan tenang dan dangkal. Luas terumbu karang yang ada kurang lebih 7.500 km2 mencakup hampir semua jenis antara lain fringing reefs, barrier reefs, atol, dan patch reefs. Keunikan karang dan berbagai jenis ikan yang hidup dalam ekosistem terumbu karang menyebabkan daya tarik wilayah terumbu karang untuk diamati dari dekat. Namun demikian, terumbu karang sangat rentan terhadap kontaminasi yang datang dari luar, sehingga keiatan berupa penangkapan ikan, limbah industri dan rumah tangga, serta pariwisata dpat meyebabkan kerusakan. Pada tahun 1996 kondisi terumbu karang diidentifikasikan 39,5% rusak, 33,5% kondisi sedang, 21,7% kondisi baik, dan hanya 5,3% dalam kondisi sangat baik.
2. Potensi Sumber Daya Manusia
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta jiwa pada tahun 2000 dengan laju pertumbuhan sebesar 1,7%. Meskipun kepadatan penduduk Indonesia termasuk jarang yaitu 102 orang per-km2, namun penyebarannya tidak merata antara satu pulau dengan pulau lainnya juga antara propinsi yang satu dengan lainnya. Sebanyak 58,87% penduduk Indonesia mendiami pulau Jawa yang memiliki luas hanya 7% dari luas wilayah. Dengan jumlah penduduk 114,987 juta maka kepadatan pulau Jawa mencapai 870 orang per-km2. Sementara itu, Irian Jaya dengan luas wilayah 22% memiliki kepadatan penduduk 5 orang per-km2.
Angka harapan hidup pada waktu lahir adalah 61,5 tahun, angka kematian sebesar 68 per-seribu peduduk. Aksesibilitas penduduk terhadap air bersih sebesar 42%, pelayanan kesehatan 43%, dan sanitasi 44% (HDR, 1993). Angka melek huruf 60,7%, sementara penduduk usia di atas 5 tahun yang tidak bersekolah sebesar 16,46%, masih sekolah 26,85%, dan tidak sekolah lagi 56,69% (BPS, 1994). Mata pencaharian penduduk Indonesia pada umumnya petani yaitu sekitar 54%, mata pencaharian lainnya adalah jasa 38% dan industri 8%. Pendapatan perkapita penduduk sebesar US$ 560 (HDR, 1993).
Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan masih menghadapi masalah. Meskipun program Inpres pendidikan telah berhasil meningkatkan angka partisipasi SD, yang berarti telah tercapainya pemerataan kesempatan mengikuti pendidikan SD, namun pada jenjang di atasnya (SLTP dan SM) kesempatan itu belum merata. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian APM SLTP yang baru mencapai 54,8%, SM 31,5%, dan perguruan tinggi 11,6%. Selain itu, pada jenjang pra-sekolah angka partisipasinya baru mencapai 12,65%. Keadaan seperti digambarkan ini menujukkan bahwa pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi setiap warga negara Indonesia masih menghadapi masalah.
Permasalahan mutu pendidikan diantaranya dapat diidentifikasi dari indikator-indikatornya, diantaranya adalah hasil belajar. Pada jenjang pendidikan dasar prestasi belajar yang dicapai siswa lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Hasil studi yang dilakukan oleh Moegiadi (1976) dan Suryadi (1989) menunjukkan bahwa kemampuan rata-rata siswa SD untuk pelajaran pokok (Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPS) untuk kelas 6 adalah 35,33 dan 37 pada tahun 1976, sedangkan pada tahun 1989 menjadi 27,7, 21,5, dan 24,2 dibandingkan dengan standar penguasaan (50%). Dalam skala Internasional, seperti yang dilaporkan Bank Dunia (Greanery, 1992) studi yang dilakukan oleh IAEA (International Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor membaca untuk SD adalah sebagai berikut: (1) Hongkong 75,5, (2) Singapura 74,0, (3) Thailand 65,1, (4) Filipina 52,6, dan (5) Indonesia 51,7. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30% materi bacaan. Mereka menemui kesulitan dalam membaca soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Kesulitan ini terjadi diperkirakan mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal-soal pilihan ganda, di samping proses pembelajaran yang tidak mendukung terhadap pengembangan kemampuan penalaran, seperti yang banyak dikritik orang selama ini.
Permasalahan relevansi dapat diidentifikasi dari kesesuaian antara kemampuan yang diperoleh dari sekolah dengan kebutuhan dalam kehidupan atau pekerjaan. Indikator ini dapat ditunjukkan diantaranya oleh data yang dikeluarkan oleh BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990. Berdasarkan data itu, pengangguran terbuka lulusan SMU adalah sebesar 25.47%, lulusan diploma sebesar 27.5%, dan sarjana sebesar 36.60%. Pdahal pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi, yakni untuk masing-masing jenjang adalah sebesar 13.4%, 14.21%, dan 15.07%. Selain itu, proporsi siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi juga kecil, yakni hanya sekitar 22-24% saja. Hal ini berarti bahwa antara 73-74% lulusan SMU tidak melanjutkan.
Permasalahan-permasalahan sebagaimana dipaparkan di atas memberi dampak kepada mutu sumber daya manusia (SDM) Indonesia, karena mutu SDM merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidikan. Hasil analisis Human Development Report tahun 2003 menunjukkan Indonesia menduduki urutan ke 108 dari 170 negara.
3. Penerapan Pembelajaran Lingkungan Hidup di SMA
Sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk menyebar dan mengatur permukaan bumi sesuai dengan keinginannya, manusia memiliki kecenderungan untuk mendominasi bumi baik dilihat dari sudut tata ruang, fungsional maupun struktural. Kerusakan alam yang terjadi pada dasarnya lebih dititikberatkan pada kemampuan manusia untuk melihat dengan jangkauan jauh melampaui batas kepentingan sendiri di samping kemampuan dalam melihat kenyataan yang sebenarnya dalam kehidupan (Soerjani, 1992:19). Kerusakan lingkungan merupakan manifestasi pengembangan dari permasalahan sosial dan lingkungan yang saling terkait. Pengertian yang mendalam mengenai lingkungan alam merupakan isu sosial dan ekologis, sehingga krisis lingkungan dapat dikatakan sebagai hasil interaksi dari berbagai keprihatinan global (Van Rensburg, 1994:1). Perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan menjadi perhatian yang serius. Apabila perilaku seseorang ditentukan oleh setting di mana ia tinggal, maka perilaku itu termasuk ke dalam behavior all setting (Fishben dan Ajzen, 1975:351). Pola tersebut dapat membedakan perilaku seseorang dengan orang lain terhadap obyek pada tempat dan waktu tertentu (Krech &Ballachey, 1988:15). Dengan demikian, perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan merupakan fokus perhatian yang serius.
Atas dasar pemikiran di atas, maka pendidikan pada dalam hal ini seyogianya berkaitan dengan: (1) pemahaman mengenai budaya silang yang berarti mengakui keberadaan lebih dari satu sudut pandang dan belajar melihat dunia dari perspektif yang berbeda, (2) pembelajaran holistik yang membawa berbagai disiplin ke suatu isu lingkungan meliputi berbagai pendekatan dalam pembelajaran, (3) pelibatan potensi masyarakat yang dapat menjalin hubungan yang akrab dan utama antara lingkungan masyarakat dengan sekolah, dan (4) pemahaman mengenai keterkaitan antara konsep-konsep dasar lingkungan hidup dengan permasalahan di sekitarnya.
Konsep-konsep dasar lingkungan hidup tersebut adalah: (1) lingkungan bumi yang terdiri dari komponen fisik, (2) materi siklus berkesinambungan dalam tataran ekosistem, (3) daya dukung lingkungan hidup, dan (4) keunikan kapasitas intelektual manusia yang menghasilkan moral dan perilaku lingkungan yang bertanggung jawab (Swan dan Stapp, 1971). Penerapan pembelajaran lingkungan hidup dapat dikembangkan melalui beberapa hal, yaitu: (1) pendekatan studi yang berorientasi lokal dan global secara integratif, (2) fokus terhadap dunia dalam perspektif lingkungan yang menyerap perspektif secara komprehensif, (3) pendidikan sebagai landasan pengembangan perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan, (4) fokus terhadap pendekatan interdisipliner untuk meningkatkan pemahaman terhadap isu-isu utama dalam mengintegrasikan perspektif lingkungan hidup, dan (6) pelaksanaan cooperative learning untuk memahami peningkatan pluralistik dalam masyarakat.
Oleh karena itu, bentuk pembelajaran yang terlalu berorientasi kepada penguasaan materi pelajaran, nampaknya kurang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dilihat dari hasil maupun proses belajar. Dilihat dari hasil belajar misalnya, ternyata tingkat penguasaan materi pelajaran sangat memprihatinkan, baik dalam skala nasional, regional apalagi skala internasional. Sementara itu, dilihat dari proses belajar ternyata siswa kita pun masih jauh ketinggalan oleh bangsa-bangsa lain yang dapat dilihat dari kemampuan dan keterampilan mereka dalam memecahkan masalah oleh karena itulah dalam kerangka reformasi pembelajaran, perubahan kurikulum dari yang bersifat subject oriented menjadi competency oriented dianggap strategis. Kemampuan penguasaan materi pembelajaran bukanlah sebagai tujuan, akan tetapi hanya sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan tertentu yang diharapkan. Hal tersebut didasarkan kepada perubahan paradigma berpikir tentang hakekat dan isi kurikulum, dari apa yang harus dipelajari siswa (what to learn) menjadi bagaimana siswa belajar (how to learn). Paradigma ini mempersiapkan peserta didik untuk memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi. Dengan memiliki kompetensi semacam itu, peserta didik diharapkan mampu untuk menghadapi dan mengatasi segala macam akibat dari adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan yang terdekat sampai yang terjauh (lokal, nasional, regional dan internasional).
Penerapan pembelajaran lingkungan hidup di SMA, muatan kompetensi yang terkait pengembangan kepribadian memperoleh porsi lebih besar dibandingkan dua kategori kompetensi lainnya. pada jenjang SMA difokuskan pada bagaimana konsep-konsep dasar dan permasalahan lingkungan hidup. Hal ini penting karena berpikir kritis dan logis yang dimiliki didasarkan pada manipulasi fisik dan obyek, sehingga penanaman konsep lingkungan hidup pada jenjang ini merupakan hal yang strategis (Piaget dalam Good & Brophy, 1990). Selain itu, menurut Orams (1993) dengan memodifikasi teori Piaget mengemukakan bahwa proses membangun struktur kognitif dapat terwujud melalui adanya informasi, transformasi, dan penggunaan. Interaksi antara individu dengan lingkungan hidup akan terus berlangsung sejalan dengan adanya pemahaman dan persepsi baru mengenai lingkungan tersebut.
Strategi penerapan pembelajaran lingkungan hidup dikembangkan dari yang berorientasi kepada pengembangan pribadi, menuju kepada yang berorientasi pada kehidupan dan alam pekerjaan (rekonstruksi sosial dan teknologi). Pendekatan humanistik dapat diberlakukan pada awal pendidikan dasar, di mana sejumlah kemampuan dasar untuk keperluan pengembangan pribadi seperti kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis, serta keberanian mengeluarkan ide atau gagasan, dan bekerjasama perlu ditonjolkan. Selanjutnya, pendidikan yang berorientasi pada alam kehidupan dan alam pekerjaan yaitu kurikulum rekonstruksi sosial dan teknologi dipadukan dengan kurikulum subyek akademik dapat digunakan pada pertengahan dan akhir pendidikan dasar. Pembelajaran ini dikembangkan dengan menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari pemahaman akan obyek, menganalisis dan merekonstruksi, sehingga terbentuk pengetahuan baru dalam diri siswa. Pembelajaran ini bukan hanya dimaksudkan mentransfer atau memberikan informasi, namun lebih bersifat menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat berpikir membentuk pengetahuan. Lebih jauh, pendidikan merupakan salah satu proses untuk dapat menjadikan diri seseorang lebih dewasa (Bloom, 1981) di mana perubahan tingkah laku merupakan indikatornya (Gagne, 1977).
C. Penutup
Pembelajaran Lingkungan Hidup di SMA merupakan hal strategis yang seyogianya dilaksanakan. Bagaimana pun besarnya potensi sumberdaya alam dalam menunjang kehidupan manusia, nampaknya tidak akan dapat termanfaatkan dengan baik dan optimal secara berkelanjutan, jika tidak memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan sumberdaya itu sendiri. Untuk itu komitmen dan tanggung jawab tersebut harus dibentuk pada diri siswa. Penerapan pembelajaran lingkungan hidup di SMA difokuskan pada bagaimana konsep-konsep dasar dan permasalahan lingkungan hidup. Hal ini disebabkan pertama, pembelajaran merupakan salah satu proses untuk dapat menjadikan diri seseorang lebih dewasa Kedua, proses pendewasaan berkaitan dengan perkembangan intelektual seseorang dan kesiapan yang dimiliki untuk perkembangan selanjutnya. Siswa berpikir kritis dan logis yang dimiliki didasarkan pada manipulasi fisik dan obyek, sehingga penanaman konsep lingkungan hidup pada jenjang ini merupakan hal yang strategis. Ketiga, proses membangun struktur kognitif dapat terwujud melalui adanya informasi, transformasi, dan penggunaan. Interaksi antara individu dengan lingkungan hidup akan terus berlangsung sejalan dengan adanya pemahaman dan persepsi baru mengenai lingkungan hidup tersebut. Dengan demikian, melalui penerapan pembelajaran lingkungan hidup yang dikembangkan ini diharapkan dapat terbentuk generasi yang memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya alam, sehingga kekayaan yang dimiliki dapat dinikmati oleh generasi masa kini juga masa yang akan datang meskipun generasi tersebut belum lahir.
Daftar Pustaka
Baharudin, Azizan. Science, Values and The Environment: On The Need for A Coherent and Holistic Worldview. Dalam Azizan HJ Baharuddin (Ed.) Environment and Development: Ethical and Educational Considerations. Kualalumpur: Institut Kajian Dasar, 1985.
Blaikie, N.W.H. “Education and Environmentalism: Ecological World View and Environmentally Responsible Behaviour”. Australian Journal of Environmental Education 9. Supplement August.. p. 14, 1993.
Bloom, Benyamin S. Taxonomy of Educational Objective: Book I Cognitive Domain. N.Y.: Longman Inc., 1956.
Chiras, Daniel D. Environmental Science: Action for a Sustainable Future. California: The Benjamin/Cummings Pub. Co. Inc., 1991.
Fishbein, Martin & Ajzen, Icek. Belief, Attitude, Intention, and Behaviour: An Introduction to Theory and Research M.A.: Addison-Wesley, 1975.
Gage, N.L. & Berliner, D.C. Educational Psychology. Dallas: Houghton Miffin Co., 1984.
Gagne, Robert M. The Conditionings of Learning N.Y.: Holt, Rinehart and Winston, 1977.
Golley, Frank B. “Deep Ecology from the Perspective of Ecological Science”. An Interdisciplinary Journal Dedicated to the Philosophical Aspects of Environmental Problems. p. 45, 1987.
Good, Thomas L. & Brophy, Jere E. Educational Psychology. N.Y.: Longman, 1990.
Hungerford, H.R. & Volk, Trudi L. “Changing Leaner Behaviour Through Environmental Education”. The Journal of Environmental Education Vol. 21. p. 3, 1990.
Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Agenda 21 Indonesia: Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Kantor Meneg LH, 1996.
Krech, David. Crutchfield, Richard S. & Ballachey, Egerton L. Individual in Society. N.Y.: McGraw-Hill Co., 1988.
Mark Orams. “Creative Effective Interpretation for Managing Interaction Between Tourist and Wildlife”. Australian Journal of Environmental Education 10. pp 21-34, 1994.
Meadow, Dennis L. et.al. The Limits to Growth. N.Y.: The American Library, 1972.
Soerjani, Mohamad. Pembangunan dan Lingkungan: Meniti Gagasan dan Pelaksanaan Sustainable Development. Jakarta: IPPL, 1997.
_______“Ekologi Sebagai Dasar Pemahaman Tentang Lingkungan Hidup”. Serasi: Warta Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 24. p. 19, 1992.
_______Kepedulian Masa Depan, alih bahasa. Jakarta IPPL, 2000
Todaro, Michael P. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Terjemahan edisi ketiga. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
United Nations Development Programme (UNDP). Human Development Report 2001. New Delhi: Oxford University Press, 2001.
Van Rensburg, Eureta Janse. “Social Transformation in Response to the Environment Crisis: The Role of Education and Research”. Australian Journal of Environmental Education Vol 10. P.1-20, 1994.
World Commission on Environment and Development. Hari Depan Kita Bersama. Terjemahan dari Our Common Future. Jakarta: PT. Gramedia, 1995.

Minggu, 20 Juni 2010

Langkah Sukses Membuat Karya Ilmiah

Akhir-akhir ini kita dibuat terperanjat oleh berita di koran Kompas, 27 Maret 2009 yang menuliskan bahwa banyak guru PNS yang sulit sekali untuk naik pangkat. Jumlahnya sangat fantastis atau bisa dikatakan cukup banyak. Para guru PNS di tingkat DIKDASMEN sulit mencapai pangkat di atas IV/A karena kemampuan mereka membuat karya Tulis Ilmiah (KTI) masih lemah padahal membuat KTI menjadi salah satu syarat kenaikan pangkat. Dari data Badan Kepegawaian Nasional (BKN) 2005, sekitar 1,4 juta guru berstatus PNS. Umumnya berada di pangkat III/A sampai III/D yang jumlahnya mencapai 996.926 guru. Adapun di golongan IV ada 336.601 guru, dengan rincian golongan IV/A sebanyak 334.184 guru, golongan IV/B berjumlah 2.318 guru, golongan IV/C sebanyak 84 guru, dan golongan IV/D ada 15 guru.
Mengapa banyak guru yang kesulitan dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah? Hal ini dikarenakan belum banyak guru yang memahami dan mengenal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sehingga wajar saja apabila banyak guru yang mengalami kesulitan dalam pembuatan karya tulis ilmiah. Lalu mengapa membuat karya tulis ilmiah itu dianggap sulit oleh para guru? Apa yang menyebabkan para guru tidak mampu untuk membuat karya tulis ilmiah? Bukankah PTK itu mudah karena dilakukan oleh guru iu sendiri di kelasnya? Bukankah PTK akan membuat guru menyadari akan masalah yang dihadapi anak didiknya dan mencari solusinya? Lalu langkah-langkah apa saja yang dibutuhkan guru agar sukses melaksanakan PTK?
Berikut ini penulis sharing-kan beberapa langkah sukses dalam membuat karya tulis ilmiah yang penulis alami sendiri dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah. Langkah-langkah sukses tersebut adalah sebagai berikut:
1. Komitmen
Teman-teman guru harus memiliki komitmen yang tinggi dalam membuat sebuah karya tulis. Jangan sampai anda dikalahkan oleh diri sendiri. Komitmen adalah suatu janji pada diri kita sendiri ataupun orang lain yang tercermin dalam tindakan kita. Harusnya, sekali kita komit, maka kita akan selalu mempertahankan janji itu sampai akhir. Setiap orang dari kecil sampai dewasa pastilah pernah membuat komitmen, meskipun terkadang komitmen itu seringkali tidak diucapkan dengan kata-kata.
Guru harus bisa melawan kemalasan diri. Ketika kita memiliki komitmen yang tinggi untuk membuat sebuah karya tulis, maka keberhasilan akan ada di depan mata. Orang-orang yang sukses dalam membuat karya tulis adalah orang-orang yang memiliki komitmen dengan dirinya sendiri. Ketika ia telah berjanji dengan dirinya sendiri, maka dengan penuh kesadaran tinggi memenuhi janji yang telah diucapkannya.
Janji itu dimulai dari proses perencanaan pembelajaran yang matang, pelaksanaan tindakan yang menantang, dan proses pengamatan yang cemerlang sehingga guru dapat melakukan refleksi diri secara gemilang. Semua itu harus dimulai dengan komitmen yang tinggi agar berhasil.
2. Konsisten
Seringkali kita tak konsisten dengan apa yang telah kita janjikan pada diri sendiri. Rutinitas kerja telah membuat kita menjadi inkonsistensi terhadap janji yang kita ucapkan. Hal inilah yang banyak terjadi pada teman-teman guru. Mereka tidak konsisten dalam membuat karya tulis. Wajar saja apabila mereka tak berhasil menyelesaikannya, karena untuk berhasil membuat sebuah karya tulis ilmiah dibutuhkan konsistensi yang terus menerus dan jangan pernah berhenti menulis. Bila ada hambatan jangan lantas langsung menyerah. Hadapi terus dan banyak bertanya kepada ahlinya. Bila kemudian kendala yang dihadapi sangat tinggi, maka anda perlu bantuan orang lain. Banyak bantuan yang bisa anda peroleh. Selain membaca buku, dan mencari teorinya lewat internet, berusahalah untuk mencari teman yang bisa anda ajak untuk berdiskusi. Dengan berdiskusi, anda akan menemukan solusi.
Banyak orang beranggapan kalau konsisten itu berarti harus selalu sama, tidak boleh bervariasi atau ada kontradiksi. Konsistensi juga menunjukkan integritas kita sebagai seorang pribadi. Konsisten itu bagai pedang bermata dua, bisa ke arah positif dan sebaliknya bisa juga ke arah negatif. Sehingga sikap berhati-hati sangat penting untuk dipakai sebagai pendamping sikap konsisten. Jangan sampai sikap konsisten kita itu malah menjadikan kita lebih buruk dan tidak meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia. Jangan karena khawatir dianggap tidak konsisten lalu kita takut berubah, padahal perubahan tersebut akan membawa kita kepada kebaikan.
3. Kerja Keras
Sebagai seorang guru yang hampir setiap semester membuat laporan karya tulis ilmiah, saya merasakan sendiri bagaimana kita harus bekerja keras dengan penuh keuletan dalam melaporkan karya tulis. Di saat orang lain mungkin tertidur lelap, penulis masih terus mengetik, menganalisis apa yang terjadi di kelas, melihat dan menilaihasilpekerjaan siswa, dan memperbaiki kekurangan yang terjadi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dibutuhkan semangat yang tinggi serta motivasi internal yang hebat agar karya tulis kita dapat terwujud. Kerja keras adalah gerbang utama berikutnya yang harus dikerjakan oleh mereka yang ingin sukses dalam menuliskan karya tulisnya.
Dalam dunia kerja, seorang professional bukan hanya lahir karena modal kepintaran saja tetapi juga karena kerajinan dan ketekunan serta kerja keras. Orang pintar tetapi malas akan dikalahkan oleh orang yang kurang pintar tetapi rajin. Bayangkan apa jadinya bila orang pintar sekaligus rajin, tekun dan pekerja keras. Jadi fungsi dan peranan kerja keras tidak bisa diabaikan. Dalam pembuatan karya tulis ilmiah anda harus bekerja keras menyusun sebuah karya tulis yang enak dibaca dan komunikatif. Tak ada keberhasilan yang dihasilkan tanpa kerja keras. Begitu pun dalam membuat karya tulis ilmiah yang bermanfaat untuk orang lain.
4. Kerja Cerdas
Banyak teman-teman guru yang bertanya pada saya kenapa sulit membuat sebuah karya tulis. Rata-rata dari mereka tak pernah bekerja cerdas dalam mengaplikasikan apa yang ada dalam alam pikirannya. Waktu yang 24 jam diberikan oleh Tuhan pemilik bumi kepada kita harus dapat dimanfaatkan dengan baik. Di sinilah kita dituntut untuk berpikir dan bertindak cerdas dalam membuat sebuah karya tulis. Gunakan waktu sebaik mungkin. Bagilah waktu dengan baik. Anda sendiri yang menentukan kapan saatnya untuk menulis, dan kapan saatnya untuk berinteraksi dengan teman lainnya untuk mendapatkan masukan. Ketika kecerdasan kita dalam mengatur waktu sudah teratasi dengan baik, maka keberhasilan dalam membuat tulisan terlihat jelas di depan mata.
Bekerja cerdas bukan hanya dalam perkataan tetapi menyatu dalam perbuatan nyata. Seringkali kita menghadapi kenyataan bahwa kita sulit sekali membagi waktu, belum lagi banyaknya pekerjaan yang menumpuk di depan mata. Di sinilah kita harus bekerja cerdas dengan cara sedikit demi sedikit mencicil pekerjaan kita. Jangan pernah menunda-nunda pekerjaan. Di dalam melaporkan penelitian kita pun demikian, harus di catat dalam buku agenda guru dan kemudian kita pindahkan dalam bentuk laporan penelitian. Di sinilah kita harus bekerja cerdas agar kita dapat membuat karya tulis yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tak ada orang yang sukses menulis karya tulis tanpa kerja cerdas.
5. Kerja Ikhlas
Dalam membuat sebuah karya tulis yang komunikatif dibutuhkan kerja ikhlas yang tak mengharapkan imbalan apapun. Kalaupun ternyata nanti ada imbalannya itu berangkat dari kerja ikhlas kita. Bila niat kita ikhlas bahwa dari menulis ini akan memperbaiki kinerja kita sebagai guru, maka anda akan merasakan sebuah kekuatan super akan membantu anda mewujudkan ide-ide anda ke dalam bentuk tulisan. Tulisan yang berbobot adalah tulisan yang komunikatif dengan pembacanya dan memberikan pencerahan kepada siapa saja yang membacanya. Hal ini disebabkan oleh sebuah keikhlasan dari si penulis yang mampu membuat sebuah tulisan enak dibaca dan interaktif dalam mengungkapkan pendapat. Ingatlah bila kita bekerja ikhlas, maka Allah pun akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Kerja ikhlas hendaklah menjadi bagian dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah. Ketika niat kita ikhlas karena untuk saling berbagi ilmu pengetahuan, maka akan muncul segala kemudahan yang terbentang di depan mata. Hal ini sering penulis alami ketika mengali kebuntuan dalam membuat karya tulis. Namun, karena niat penulis ikhlas, ada saja pertolongan Allah yang membuat penulis serasa mendapatkan ide-ide baru dalam menuliskan apa yang penulis pikirkan. Ingatlah, kerja ikhlas akan membantu anda dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah, karena tak ada beban yang anda alami. Ide menulispun serasa turun ke otak dengan sendirinya.
6. Kerjasama/ Kolaboratif
Pekerjaan yang baik dan obyektif dalam proses pembelajaran di kelas adalah bila dilakukan bersama dengan teman sejawat. Kolaboratif harus senantiasa kita lakukan agar kualitas pembelajaran kita di kelas menjadi semakin berkualitas. Kesendirian akan membuat kita menjadi orang yang egois, dan menganggap diri kitalah yang paling benar. Bila kita berkolaborasi, maka kita akan banyak mendapatkan masukan dari teman sejawat lainnya tentang apa yang telah kita lakukan.
Dalam pembuatan karya tulis ilmiah, sebaiknya anda juga mendiskusikannya dengan teman sejawat. Jangan sampai anda hanya mengungkapkan pendapat pribadi anda sendiri yang sifatnya subyektif, dan cenderung menyalahkan yang lain. Tak ada yang lebih baik selain melakukan kolaboratif dengan teman sejawat. Bila anda terpaksa harus sendirian, carilah teman yang anda anggap dapat dijadikan teman untuk berdiskusi tentang masalah penelitian yang sedang anda lakukan. Kerjasama yang dibina dengan baik akan memudahkan anda dalam mengatasi kesulitan yang anda alami dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah.
Tak ada karya tulis yang baik tanpa kerjasama semua pihak. Anda bisa buktikan dari semua kata pengantar yang dibuat oleh guru yang telah berhasil membuat karya tulisnya. Di sanalah tertulis ucapan terima kasih dari orang-orang yang membantunya.
7. Koneksi
Tak ada orang yang sukses saat ini tanpa memiliki koneksi dengan orang lain. Dalam dunia persekolahan anda harus bisa bersinergi dengan kepala sekolah anda yang merupakan orang nomor satu di sekolah. Jangan dilupakan peran kepala sekolah. Karya tulis ilmiah yang anda buat tidak ada artinya bila belum disetujui oleh kepala sekolah. Apalagi bila karya tulis itu diajukan untuk kenaikan pangkat atau mengikuti lomba. Jadi koneksi ini sangat penting artinya bagi kita sebagai penulis sekaligus peneliti. Dalam penelitian tindakan kelas, proposal penelitian yang kita buat harus terlebih dahulu disetujui oleh kepala sekolah. Tanpa persetujuan kepala sekolah agak sulit bagi kita mewujudkannya dalam pelaksanaan penelitian.
Dalam lomba-lomba karya tuis yang telah penulis ikuti, tak ada satu pun finalis lomba yang tak memiliki koneksi. Mereka bisa berhasil ke Jakarta dan menjadi finalis lomba karya tulis ilmiah karena adanya koneksi dari sekolahnya. Jadi koneksi ini sangat penting bagi guru yang akan membuat karya tulisnya. Kelihatannya koneksi ini sepele, tetapi kalau kita tak memiliki koneksi, maka karya tulis kita itu hanya masuk almari perpustakaan dan tak terpublikasikan dengan baik.
8. Kemauan Kuat
Dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah dibutuhkan kemauan kuat dari diri sendiri untuk mewujudkannya. Tanpa kemauan yang kuat jangan berharap karya tulis anda berhasil dibuat. Kemauan kuat akan menjadikan karya tulis yang anda buat menjadi hidup dan lebih bermakna.
Kemauan yang kuat akan membuat ada memiliki kekuatan maha dahsyat yang membuat anda merasa mudah dalam melakukan penelitian dan melaporkannya dalam bentuk karya tulis. Tanpa kemauan yang kuat jangan berharap anda berhasil dalam membuat karya tulis ilmiah yang bermanfaat untuk orang lain.
Katakan pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa melakukannya. Ketika anda berkata, ”SAYA PASTI BISA”, maka akan ada sugesti power dalam diri yang merangsang alam bawah sadar anda untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.
9. Kontekstual
Karya tulis yang dibuat sebaiknya sesuai dengan keadaan nyata di lapangan atau di kelas. Tulislah sesuatu yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa dan juga guru sehingga tujuan penelitian tercapai. Buatlah sebuah pengalaman nyata dalam karya tulis anda. Pengalaman nyata itu benar-benar hasil perenungan yang mendalam dari refleksi diri selama anda melakukan pembelajaran.
Banyak teman-teman guru yang menuliskan pengalamannya itu dalam bentuk laporan penelitian tindakan kelas. Isinya sangat bagus dan membuat siapa saja yang membacanya merasa mendapatkan pencerahan. Apa yang dituliskan memang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata kita sehari-hari, dan mereka telah berhasil mencari solusinya. Apayang diteliti hendaknya bersinggungan dengan dunia nyata guru dan siswa dan bermanfaat bagi sekolah.
10. Kredibel
Karya tulis yang dibuat sebaiknya karya tulis yang benar-benar dibuat sendiri, sehingga tingkat kepercayaannya sangat tinggi. Karya tulis itu harus kredibel di mata sesama teman sejawat dan juga diketahui oleh kepala sekolah. Bila teman sejawat dan kepala sekolah telah mempercayai, maka anda bisa mempublikasikannya dalam forum MGMP atau tingkat yang lebih luas lagi. Ketika karya tulis yang dibuat kredibel, maka kepala sekolah dan juga kepala dinas pendidikan setempat akan dengan senang hati menyetujui dan menandatangani karya tulis ilmiah anda.
Agar karya tulis itu lebih kredibel, sebaiknya lakukanlah diskusi ilmiah guru di sekolah. Kenapa karya tulis ilmiah guru kurang kredibel? Karena budaya ilmiah tidak terbina dengan baik. Teman-teman guru yang tidak terbiasa meneliti menjadi lebih sulit melaporkan hasil karya tulisnya, sehingga terjadi plagiarisme karya tulis yang merupakan jiplakan dari karya tulis orang lain atau karya tulis itu dibuatkan oleh orang lain sehingga hasilnya kurang kredibel.
11. Kerja Tuntas/ Ketuntasan
Karya tulis yang anda buat jangan di nanti-nanti dan jangan di tunda-tunda. Segera tuntaskan sampai selesai sesuai dengan jadwal yang anda rencanakan dalam proposal penelitian. Permaslahan yang dihadapi oleh para guru dewasa ini adalah banyak sekali guru yang tak menuntaskan tugas yang diembannya. Apalagi banyak guru  yang tidak tuntas dalam melaporkan hasil penelitiannya.
Selain kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas, dibutuhkan juga kerja tuntas agar apa yang kita tuliskan benar-benar holistik. Kita tak menilai siswa dari satu sisi saja, tetapi kita menilai mereka dari semua sisi dan dari sudut pandang yang berbeda. Ketika kerja tuntas telah kita lakukan, maka kesuksesan kita dalam membuat sebuah karya tulis ada di depan mata. Biasakanlah selalu bekerja tuntas.
12. Kejujuran
Hendaknya karya tulis yang dituliskan harus dilandasi dengan kejujuran. Jangan memasukkan data yang tak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Peneliti harus jujur menyampaikan data temuannya. Kejujuran harus menjadi panglima kita dalam membuat karya tulis ilmiah.
Sebagai guru anda harus satu kata antara perkataan dan perbuatan. Jangan sampai apa yang anda tuliskan, ternyata dalam kenyataannya tidak anda lakukan. Janganlah membuat sebuah karya tulis ilmiah dari laporan penelitian tindakan kelas yang bukan berasal dari apa yang anda lakukan sehari-hari. Anda harus jujur dalam membuat sebuah karya tulis. Ketika tulisan anda dilandasi dengan kejujuran, maka pintu gerbang kesuksesan dalam membuat karya tulis ilmiah akan terbuka lebar-lebar.
13. Ketelitian/kecermatan
Membuat sebuah karya tulis ilmiah dibutuhkan ketelitian dalam membuatnya, karena itu seorang guru harus teliti dalam membuat karya tulisnya. Tanpa ketelitian yang tinggi, jangan harap karya tulis anda berhasil dibuat dengan baik. Dalam sebuah penelitian, faktor ketelitian sangatlah penting, karena disinilah proses analisis data diperoleh. Oleh sebab itu di setiap laporan PTK ada satu bab yang khusus menuliskan hasil penelitian kita. Di sinilah ketelitan kita dalam meneliti akan teruji. Baik segi keabsahan data, validitas hasil penelitian, dan analisis data.
14. Kesabaran
Kesabaran akan membuahkan keindahan. Dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah dibutuhkan kesabaran. Baik dalam pembuatan proposalnya, prosesnya dan pelaporannya. Tanpa kesabaran yang tinggi karya tulis anda akan menjadi sebuah laporan yang terkesan tergesa-gesa.
Karya tulis yang baik adalah karya tulis yang runut metodologinya, enak bahasanya, dan dilengkapi dengan kajian pustaka yang tidak asal comot. Semua itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan dalam menyatukannya ke dalam bentuk karya tulis ilmiah.
15. Kreativitas
Kreativitas adalah sesuatu yang baru atau sesuatu yang lebih baru. Guru dituntut kreatif dalam membuat karya tulisnya sendiri. Perlu kreativitas yang tinggi dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah yang memikat hati. Guru harus lebih kreatif dalam membuat karya tulisnya sendiri. Bukan sekedar menggunakan metode ATM (Amati Tiru Modifikasi), tetapi lebih dari itu. Jangan sampai apa yang dituliskan ternyata telah diteliti pula oleh guru lainnya. Boleh saja masalahnya sama, tetapi harus dibuat dalam gaya tulisan berbeda.
Berdasarkan pengalaman penulis mengikuti berbagai lomba, khususnya lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tingkat nasional di tahun 2008, karya tulis yang dibuat oleh teman-teman guru adalah karya tulis yang memiliki kreativitas yang tinggi. Hal ini penulis peroleh dari judul-judul meraka yang sangat berbeda dari judul-judul karya tulis yang pernah penulis lihat dari karya tulis guru lainnya. Mereka pun mampu untuk membuat media pembelajaran yang sangat kreatif sekali.
16. Kondusif/ keadaan yang baik
Karya tulis yang dibuat oleh guru harus menunjukkan suasana yang kondusif dalam melakukan tindakan perbaikannya. Ketika suasana kondusif terpenuhi, maka guru akan dengan mudah melakukan penelitiannya. Ketika penelitiannya telah selesai dalam suasana yang kondusif, maka pelaporannya pun akan dengan mudah diselesaikan dengan baik oleh guru yang bersangkutan.
Penulis merasakan sendiri, bila suasana sekolah kondusif, kita akan dengan mudah melakukan penelitian kita dan melaporkannya dalam bentuk karya tulis ilmiah. Lalu bagaimana bila ternyata suasana sekolah tidak kondusif? Kita sendirilah sebagi guru yang harus merubah keadaan ini. Guru harus menjadi motivator dalam lingkungannya sendiri. Guru harus pantang menyerah dalam keadaan apapun.
17. Keragaman
Karya tulis yang anda buat disarankan beragam. Sistematika penulisan laporan PTK boleh seragam, tetapi penyampaian laporan dan isinya disarankan seragam. Keragaman sangat diperlukan dalam mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan baru dalam bidang pendidikan. Semakin banyak guru yang membuat karya tulis ilmiahnya, maka semakin beragam pula khasanah ilmu pendidikan yang akan kita dapatkan.
Kurikulum lama telah mengajarkan pada kita untuk senantiasa seragam dalam pembelajaran, sedangkan dalam KTSP kita dituntut untuk menciptakan sendiri pembelajaran kita yang sesuai dengan SK (Standar Kompetensi) dan KD (Kompetensi Dasar). Di sinilah akan terlihat keragaman kita dalam membuat sebuah pembelajaran. Paradigma baru dalam pembelajaran guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Siswa bukanlah obyek pembelajaran. Guru dan siswa sama-sama belajar sehingga melahirkan keragaman yang sesuai dengan daerahnya masing-masing. Seperti apa kata pepatah. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.
18. Konten kreatif
Banyak kita temui karya tulis ilmiah yang dibuat oleh guru kurang kreatif. Apa yang dituliskan rata-rata hampir sama dengan karya tulis yang dibuat oleh guru lainnya. Perlu perjuangan dari para guru untuk membuat sebuah konten yang kreatif hasil karyanya sendiri. Melihat hasil karya tulis orang lain memang diperbolehkan sebagai bahan perbandingan, tetapi karya tulis yang anda hasilkan haruslah karya tulis yang benar-benar tulisan anda sendiri yang kreatif. Tulisan kreatif, biasanya lebih enak dibaca dan lebih mengena kepada masalah pendidikan yang dituliskannya.
Dalam kesempatan yang diberikan oleh panitia seminar maupun worskhop di timgkat nasional tentang PTK, penulis banyak menjumpai teman-teman guru yang kesulitan dalam menuliskan apa yang telah mereka kerjakan. Mereka sulit sekali menulis walaupun hanya satu alinea saja. Tetapi ketika penulis pancing dalam berbagai pertanyaan, maka keluarlah semua pengalaman guru dari dalam mulutnya. Ternyata banyak guru yang baru pandai bicara saja, tetapi ketika menuliskannya banyak yang belum berhasil. Untuk bisa menuliskannya diperlukan latihan terus menerus tiada henti. Dari latihan menulis inilah akan anda temui sebuah konten yang kreatif karena anda telah terbiasa untuk menulis.
19. Keaslian
Karya tulis ilmiah yang dibuat oleh guru harus orisinil, dan dapat dipertanggungjawabkan keasliannya. Ketika keaslian telah menyatu dalam karya tulis yang dibuat oleh guru, maka orang lain yang membacanya menjadi tergugah. Apalagi bila apa yang dituliskan merupakan sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan, tentu saja akan menjadi menarik dan membuat para guru lainnya mendapatkan manfaat dari apa yang anda tuliskan.Keaslian merupakan sesuatu yang tinggi dalam penilaian tim penilai karya tulis ilmiah.
Karya tulis ilmiah yang asli adalah karya tulis yang dibuat oleh seorang guru yang memang kreatif dalam mengembangkan potensi unik siswa. Potensi unik siswa akan dengan mudah dikembangkan apabila guru mampu memahami apa yang dibutuhkan oleh para siswanya dalam proses pembelajaran. Di sanalah akan terlihat keaslian dari sebuah karya tulis ilmiah.
20. Komunikatif
Banyak karya tulis ilmiah yang dibuat oleh guru tidak komunikatif. Ingatlah bahwa seorang guru membuat sebuah karya tulis ilmiah untuk dibaca oleh guru lainnya atau untuk orang lain yang menginginkan pengetahuan yang dituliskan olehnya. Sehingga bahasa yang digunakan haruslah komunikatif. Ketika bahasa yang digunakan adalah bahasa ilmiah populer yang komunikatif, maka karya tulisnya akan dengan mudah dicerna dan bermanfaat untuk orang banyak.
Ingatlah bahwa apa yang akan kita tuliskan itu akan dibaca oleh orang lain. Usahakanlah menggunakan bahasa yang komunikatif, sehingga mereka memahami apa yang anda tuliskan. Bila bahasa dalam tulisan anda komunikatif, maka para pembaca pun akan menyukai tulisan anda dan meresakan manfaat dari apa yang anda tuliskan.
Demikianlah beberapa langkah sukses dalam membuat karya tulis ilmiah yang saya jabarkan berdasarkan pengalaman saya sebagai guru. Semoga apa yang saya tuliskan ini bermanfaat untuk teman-teman guru yang akan meneliti dan melaporkan hasil PTKnya. PTK yang baik dilakukan dari melihat, membaca, menulis, meneliti, dan melaporkan. Semoga anda bisa memahaminya.

Wijaya Kusumah, Guru SMP Labschool Jakarta
Penulis Buku Best Seller Mengenal Penelitian Tindakan Kelas

Sumber : http://iptpi.net/#/?p=104#more-104

Senin, 07 Juni 2010

Inpanssing

Inpassing merupakan penetapan jabatan fungsional Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil. Inpassing bukan sebatas untuk memberikan tunjangan profesi bagi mereka, namun lebih jauh adalah untuk menetapkan kesetaraan jabatan, pangkat/golongan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku sekailgus demi tertib administrasi Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil.
Persyaratan Guru Bukan Pegawai Negeri Sipil yang dapat ditetapkan Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya adalah:
  1. Guru tetap yang mengajar pada satuan pendidikan, TK/TKLB/RA/BA atau yang sederajat; SD/SDLB/MI atau yang sederajat; SMP/SMPLB/MTs atau yang sederajat; dan SMA/SMK/SMALB/MA/MAK atau yang sederajat, yang telah memiliki izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Dinas Pendidikan Provinsi setempat. Guru dimaksud adalah guru yang diangkat oleh pemerintah, pemerintah daerah dan yayasan/masyarakat penyelenggara pendidikan;
  2. Kualifikasi akademik minimal S-1/D-IV;
  3. Masa kerja sebagai guru sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun berturut-turut pada satmingkal yang sama;
  4. Usia setinggi-tingginya 59 tahun pada saat diusulkan;
  5. Telah memiliki NUPTK yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional; dan
  6. Melampirkan syarat-syarat administratif:
    1. Salinan/fotokopi sah surat keputusan tentang pengangkatan atau penugasan sebagai guru tetap yang ditandatangani oleh yayasan/penyelenggara satuan pendidikan yang mempunyai izin operasional tempat satuan administrasi pangkal (satmingkal) guru yang bersangkutan.
    2. Salinan atau fotokopi ijazah terakhir yang disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku (Perguruan Tinggi/Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang menerbitkan ijasah dimaksud).
    3. Surat keterangan asli dari kepala sekolah/madrasah bahwa yang bersangkutan melakukan kegiatan proses pembelajaran/pembimbingan pada satmingkal guru yang bersangkutan.

Minggu, 06 Juni 2010

Juklak Jabatan Fungsional Guru

Kemdiknas-BKN Teken Peraturan Bersama Juklak Jabatan Fungsional Guru


Jakarta, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) melakukan penandatanganan peraturan bersama tentang petunjuk pelaksanaan (juklak) jabatan fungsional guru dan angka kreditnya.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh bersama dengan Kepala BKN Edi Topo Ashari di Kemdiknas, Jakarta, Kamis (6/5/2010).

Peraturan bersama ini juga berisi juklak jabatan fungsional pengembang teknologi pembelajaran dan angka kreditnya, serta juklak jabatan fungsional pranata laboratorium pendidikan dan angka kreditnya.

Mendiknas menyampaikan, juklak ini terbitkan guna memberikan penghargaan terhadap prestasi yang diraih. Pengakuan itu, kata Mendiknas, sangat penting karena ada orang yang prestasinya bagus, tetapi prestasi itu tidak diapresiasi. "Prestasi tadi seakan-akan tidak bisa kita kenal karena rumusnya tidak ada. Karena tidak dikenal tidak bisa kita berikan apresiasi," katanya.

Dengan diterbitkannya tiga juklak ini, kata Mendiknas setidaknya sudah bisa memberikan pengakuan terhadap prestasi. Selain itu, juklak ini terkait dengan promosi dan kenaikan pangkat. "Tidak kalah penting pegawai bisa merencanakan karirnya," katanya.

Edi mengatakan, dengan ditetapkannya tiga peraturan bersama ini, diharapkan agar pejabat yang berkepentingan dapat melaksanakan peraturan bersama ini dengan baik dan tertib. Terutama, kata dia, dalam pengembangan pembinaan karir pejabat fungsional. Lebih khusus lagi, lanjut dia, yang berkaitan dengan prosedur penilaian dan penetapan angka kredit pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan jabatan atau pangkat perpindahan dalam dan dari jabatan, serta pembebasan sementara dan pemberhentian dalam dan dari jabatan.

"Dengan upaya ini diharapkan dapat dihasilkan pejabat fungsional yang profesional dan mandiri, serta mempunyai uraian tugas yang jelas penilaian, kinerja terukur, serta jalur karir jabatan dan pangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata Edi.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdiknas Baedhowi menyampaikan, peraturan bersama ini merupakan juklak dari Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009 tentan Jabatan Fungsional Guru dan angka kreditnya. "Semua yang berkaitan dengan kenaikan pangkat yang dilakukan oleh Kemdiknas harus mendapatkan pengakuan dari BKN," katanya
.
Baedhowi menyebutkan, ada tiga hal terkait kenaikan pangkat. Pertama adalah program induksi bagi guru untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Baedhowi mengatakan, selama satu tahun pertama, guru menjalani masa percobaan. Penilaian dilakukan oleh kepala sekolah, guru-guru, dan pengawas. "Kalau dinyatakan baik baru bisa mengikuti prajabatan untuk diangkat menjadi PNS," katanya.

Guru yang akan naik pangkat, kata Baedhowi, juga diwajibkan untuk menulis karya tulis ilmiah. Sebelumnya, kata Baedhowi, penulisan karya ilmiah untuk naik dari golongan IVA ke IVB, namun sekarang dimulai dari golongan IIIB untuk naik pangkat ke golongan IIIC. "Mereka wajib menulis karya ilmiah," katanya.

Baedhowi melanjutkan, pada masa pangkat tertentu guru harus mengikuti program pelatihan atau continous professional development (CPD) dan peningkatan kompetensi. Waktunya selama 180 jam dalam waktu empat tahun. Pelatihan meliputi pelatihan secara reguler, seminar, atau kegiatan-kegiatan untuk peningkatan mutu. "Itu perubahannya untuk menjadikan guru konsisten dan professional, " ujarnya. Agung -GIM-

http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/5/7/kemdiknas-bkn-teken-peraturan-bersama-juklak-jabatan-fungsional-guru.aspx

Sabtu, 01 Mei 2010

Pameran Seni Membuat Peta

Pameran seni membuat peta

Peta Laut Tengah
Peta Laut Tengah buatan Diogo Homem tahun 1570 lebarnya lebih dari 1 meter
Bagi banyak orang, kata peta membuat mereka membayangkan ruang kelas berdebu dan guru geografi.
Tetapi sebuah pameran baru di Perpustakaan Nasional Inggris bernama Magnificent Maps bertujuan untuk mengembalikan seni mengenai bagaimana kita melihat dan menggunakan peta-peta tua yang seringkali dibuat dengan indah itu.
Peta-peta yang dipamerkan lebih dari sekedar penelitian topologi sebuah negara atau benua. Jenisnya sangat beragam, begitu juga dengan dekorasinya.
Hiasan peta terdiri dari gambar anjing pemburu sampai monster laut dan bayi-bayi bersayap yang menunjukkan arah angin dalam peta.
Kurator pameran Peter Barber dan Tom Harper dengan hati-hati memilih memilih 80 peta dinding mengagumkan dari 4,5 juta peta dalam koleksi perpustakaan itu.
Sebagian dari peta itu tidak pernah diperlihatkan kepada publik.
"Kami ingin menunjukkan bahwa peta bisa artistik, jadi kami sengaja memilih peta yang tampak indah," kata Barber.
Peta-peta yang dipamerkan dibuat dari tahun 200 sebelum Masehi sampai zaman sekarang.
Sebagian dibuat dari perak, diukir di kayu atau marmer atau ditenun ke dalam permadani yang dibuat untuk dipasang menjadi hiasan dinding berdampingan dengan lukisan-lukisan terkenal dunia.
Karta Laut Tengah buatan Diogo Homem dari tahun 1570 dihiasi emas, sementara Peta Dunia karya Pierre Descelier dari tahun 1550 yang menjabarkan sejarah alam dunia dilukis dengan tangan.
Tujuan utama hampir semua peta di sini adalah propaganda, karena propaganda bisa menggalang kekuatan.
Peter Barber
Peta perang karya Fred W Rose menggambarkan kebijakan luar negeri Rusia dengan tentakel gurita yang mengancam dan menjerat Kesultanan Usmaniyah.

Propaganda

Selain kualitas estetika ketrampilan dan kreativitas para para kartografer atau pembuat peta juga memiliki tujuan, jelas Barber.
"Tujuan utama hampir semua peta di sini adalah propaganda, karena propaganda bisa menggalang kekuatan."
"Tetapi kekuatan itu bukan berarti kekuatan politik, bisa saja untuk status, seperti peta properti luas milik seorang saudagar kaya. Dan sebuah peta harus tampak indah agar bisa menjadi simbol status."
Tetapi pandangan itu tidak didukung oleh sebagian pencinta peta. Seni, menurut mereka, tidak memiliki tempat di dalam peta.
"Sejak sekitar tahun 1800 banyak orang cenderung menghubungkan peta dengan geografi matematis, tetapi anggapan bahwa sebuah peta tidak boleh indah merupakan anggapan yang sempit," tambah Barber.
"Banyak orang menganggap kami dangkal dan salah karena mengikutsertakan peta dekoratif dalam pameran ini. Mereka tidak menghargai seni dan menganggap bila peta tidak ada hubungan langsung dengan geografi dan ukuran, peta itu seharusnya tidak dipilih."

Sabtu, 24 April 2010

Hari Bumi

Selamat Hari Bumi 2010! Jangan lupa matikan lampu selama sejam, pukul 20.30-21.30 waktu setempat.

Berbagai kota dari 92 negara hari ini bersiap-siap untuk mematikan lampu selama sejam saja untuk memperingati Hari Bumi dan mendukung gerakan penyelamatan lingkungan terhadap perubahan iklim.

Tahun lalu, acara ini diikuti oleh 88 negara. Daerah-daerah baru yang turut serta pada tahun 2010 termasuk Kosovo, Madagaskar, Nepal, Arab Saudi, Mongolia, Kamboja, Ceko, Paraguay, Ekuador, dan Kepulauan Marina Utara di Samudra Pasifik.

Panitia pengurus Jam Bumi, yakni kesepakatan mematikan lampu selama sejam tersebut mengonfirmasi bahwa pada tahun ini 1.100 kota sudah sepakat untuk turut serta. "Jam Bumi mencerminkan tekad penduduk Bumi untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih sehat," tutur Direktur Eksekutif Jam Bumi Andy Ridley. "Acara ini menyatukan berbagai kota, komunitas, bisnis, dan perorangan dalam usaha penanggulangan perubahan iklim," katanya.

Awalnya, Jam Bumi adalah inisiatif dari WWF, dimulai pada 2007 di Sydney, Australia, saat dua juta warga mematikan lampu mereka selama sejam. Pada 2008, jumlah peserta yang terlibat sudah melompat menjadi 50 juta orang di seluruh dunia. Pada 2009, ratusan juta orang berpartisipasi, di mana lebih dari 4.000 kota mematikan lampu.


http://www.cakraningrat8.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=477
Sabtu, 24 April 2010

Jumat, 09 April 2010

Radar Cuaca Mampu Prediksi 4 Menit Sebelum Bencana

Radar Cuaca Mampu Prediksi 4 Menit Sebelum Bencana

Perubahan iklim menyebabkan tingkat kelembaban udara semakin tinggi.
Akibatnya, curah hujan semakin meningkat dan bisa menimbulkan bencana alam. Seperti banjir bandang yang menimpa Kecamatan Sayurmatinggi
Kabupaten Tapanuli Selatan, (4/4) lalu serta gempa yang terjadi di Sinabang (7/4) lalu.
Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofiska Wilayah I Sumut, Drs Heri Saroso mengatakan, BMKG merasa perlu untuk menindak lanjuti masalah tersebut. “Dari dua bencana yang terjadi dalam selang waktu yang relatif berdekatan, disebabkan oleh adanya perubahan musim serta naiknya air laut. Untuk itu dengan pemasangan radar cuaca dan peralatan kalibrasi diharapkan bisa meminimalisir bencana yang akan terjadi,” terang Heri saat acara peresmian operasional peralatan radar cuaca dan kalibrasi BMKG Sumut Wilayah I di Jalan Ngumban Surbakti Medan, kemarin (8/4).
Ditambahkannya, alat yang didatangkan dari Amerika Serikat tersebut bisa menjangkau atau memprediksi keadaan cuaca dalam jangka waktu 4 menit sebelum kejadian. “Untuk hujan, dan perubahan-perubahan iklim dengan adanya radar cuaca ini, bisa dideteksi dengan cepat. Pendeteksiannya, misalnya tentang cuaca yakni perubahan cuaca yang terjadi bisa diketahui jumlah curah hujan, ketinggiannya, dimana letak akan turunnya, berapa kecepatan anginnya dan fungsi-fungsi lainnya,” tuturnya.
Ditambahkannya, radar cuaca dan peralatan kalibrasi tersebut juga bermanfaat bagi navigasi pesawat terbang. Bisa mengatur take off dan landingnya pesawat terbang secara teratur.
“Radar cuaca ini bisa menjangkau jarak 400 Km, yang mencover keseluruhan area yang sebesar 400 Km tersebut,” katanya.
Sementara itu, Kepala BMKG Pusat, DR Ir Sri Woro B. Harijono mengatakan, perubahan iklim yang terjadi belakangan ini menyebabkan sering terjadinya perubahan kondisi seperti pergeseran awal musim.
“Dalam hasil telaahan BMKG terlihat juga kenaikan temperatur rata-rata di Indonesia dalam 100 tahun terakhir yang mencapai 1,14 derajat celsius. Selain itu permukan air laut juga mengalami peninggian sebesar 18 centimeter,” katanya. (mag-13)

http://www.hariansumutpos.com/2010/04/radar-cuaca-mampu-prediksi-4-menit-sebelum-bencana.html

 

Rabu, 07 April 2010

Banjir Karena Illegal Logging

BMKG: Banjir Karena Illegal Logging

10:56 | Wednesday, 7 April 2010
MEDAN-Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan Sabtu (3/4) malam lalu dipengaruhi curah hujan yang tinggi di daerah hulu. Menurut data Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah 1 Sumatera Utara, curah hujannya tergolong tingggi, mencapai 171 milimeter.
Demikian dipaparkan Kepala Bidang Informasi dan Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah 1 Sumut, Hendra Suwarta, kemarin. “Curah hujan memang tinggi, sebesar 171 milimeter,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya di Jalan Ngumban Surbakti Me dann
Namun Hendra menegaskan, curah hujan yang tinggi bukan satu-satunya penyebab banjir bandang dimaksud. Kerusakan lingkungan lebih mempengaruhi terjadinya bencana tersebut.
“Dengan banyaknya perambah hutan yang berkeliaran, membuat hutan di sana menjadi rusak. Pohon-pohon yang awalnya bermanfaat untuk menyerap air, sudah tidak ada lagi. Makanya ketika hujan turun, air langsung berubah menjadi banjir karena tidak ada penahannya lagi,” terangnya.
Diterangkan Hendra, tinggi rendahnya curah hujan ada empat kategori yakni ekstrim atau sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Untuk ukuran ekstrem, curah hujan di atas 200 milimeter, tinggi antara 100-200 milimeter. Sedangkan ukuran sedang antara 50 sampai 100 meter dan rendah nol sampai 50 milimeter.
Karena Tapanuli Selatan termasuk wilayah dengan curah hujan tinggi dan mengalami kerusakan ekosistem hutan, diprediski banjir bandang sejenis masih akan terjadi di masa depan.
Hendra Suwarta kembali menegaskan, meski di Sumatera Utara curah hujan tidak merata, namun secara umum berada di atas normal, di atas 100 milimeter.
“Peluang hujan sangat tinggi, potensi banjir juga tinggi. Kemungkinan banjir besar terjadi di daerah-daerah pantai yakni pantai timur dan pantai barat Sumatera. Seperti Belawan, Langkat dan Medan sendiri,” terangnya lagi.
Secara keseluruhan, wilayah kerja BMKG Wilayah 1 Sumut mencakup Aceh, Sumut, Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau. “Potensi banjir di empat provinsi selain Aceh sangat besar, karena rata-rata curah hujannya dalam kategori tinggi yakni 100 milimeter lebih,” ungkapnya.
Karena kondisi cuaca yang seperti itu, imbaunya, bagi penduduk yang berada di tengah kota agar lebih memperhatikan saluran-saluran air (drainase), supaya air-air yang berasal dari hujan bisa mengalir sebaik mungkin.
Sementara untuk penduduk yang bermukim di daerah perbukitan, sebaiknya menjaga lingkungan yang ada dengan menjaga hutan-hutan agar jangan ditebangi sembarangan.
“Masa curah hujan yang tinggi ini berlangsung dalam jangka waktu sampai akhir April ini. Tapi tidak menutup kemungkinan, tingginya curah hujan bisa sampai Mei mendatang. Untuk itu, maka BMKG Wilayah 1 Sumut terus memantau kondisi alam yang terjadi,” cetusnya.
Anggota DPRD Sumut dari fraksi PKS, Amsal Nasution berpendapat sama dengan Hendra Suwarta. Wakil rakyat asal pemilihan Madina, Tapanuli Selatan, Padang Lawas Selatan dan Padang Lawas Utara itu mengatakan menuding perambah hutan dan perusak lingkungan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas musibah tersebut.
“Berkaca dari kejadian banjir bandang di sejumlah daerah yakni Bukit Lawang dan Madina, apa yang terjadi di Tapanuli Selatan juga karena hutan-hutan yang mulai gundul,” ujarnya.
Amsal miris melihat kenyataan, pihak berwenang melakukan pembiaran atas perusakan hutan yang dilakukan sejumlah perusahaan. Sementara warga yang menggunakan hasil hutan seadanya malah sering berusan dengan petugas.
“Warga sekitar yang hanya menggunakan kayu hutan ala kadar nya, sering berurusan langsung dengan Jagawana (Polisi Kehutanan, Red) dan Dinas Kehutanan lalu warga dikenai hukuman. Sementara perusahaan-perusahaan yang terorganisir melakukan eksploitasi hutan malah dibiarkan bebas saja. Kalau tidak ada ’apa-apa’ nya, kan tidak mungkin,” tandas anggota Komisi C DPRD Sumut tersebut.
Lebih lenjut ia menegaskan, Dinas Kehutanan tidak bisa menaggulangi persoalan ini, lebih baik alokasi APBD untuk dinas tersebut dikurangi. Disebutkannya, dalam draf P-APBD Provsu 2010, tercatat dana yang digelontorkan untuk Dinas Kehutanan Provsu sebesar Rp45 miliar lebih. Yang taksasinya adalah Belanja Tidak Langsung sebesar Rp29.924.453.682. Sementara dana Belanja Langsung sebesar Rp16.919.697.650.
Korban Tewas Jadi 5 Orang
Korban tewas banjir bandang di Tano Tombangan, Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapsel bertambah menjadi lima orang. Dua korban tambahan yakni Mariati boru Pane (36) dan Basaria Nasution alias Oppu Titin (80), Senin (5/4) malam. Sebelumnya, Mariati yang dirawat di RSUD Padangsidimpuan karena luka parah, sempat menyelamatkan putrinya saat banjir melanda, Sabtu (3/4) lalu.
Kepada METRO TAPANULI (grup Sumut Pos), Camat Sayurmatinggi, Sulaiman Pulungan ketika dikonfirmasi melalui telepon, Selasa (6/4) mengatakan, setelah dirawat selama tiga hari di RSUD Padang Sidimpuan, Mariati boru Pane meninggal dunia karenakan luka yang dideritanya cukup parah. Luka itu akibat benturan keras dengan kayu ketika menyelamatkan putrinya pada malam banjir bandang
“Nyawa korban tidak tertolong lagi, sehingga meninggal dunia di RSUD Padang Sidimpuan Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB. Pada malam itu juga korban dibawa dengan menggunakan ambulans ke rumah duka di Desa Tanjung Medan, dan tiba sekitar pukul 22.30 WIB dan akan dikebumikan Rabu (7/4),” ujar Sulaiman.
Diungkapkan Sulaiman, selain Mariati boru Pane, ada satu korban banjir bandang lagi yang juga meninggal pada Senin (5/4) malam sekira pukul 24.00 WIB. Korban yakni Basaria Nasution alias Oppu Titin (80), warga Desa Tanjung Medan. Direncanakan, jenazahnya akan dimakamkan Rabu (7/4) di TPU Tanjung Medan.
“Ada satu lagi yang meninggal tapi tak dirujuk ke rumah sakit, karena saat kejadian luka yang dideritanya hanya lecet-lecet di sekujur tubuhnya. Kami menduga penyebabnya karena trauma, terkejut, dan fisik yang sudah lemah karena sudah tua. Jadi total korban meninggal akibat banjir bandang hingga saat ini lima orang. Sebelumnya 3 orang meninggal di hari pertama banjir bandang yakni Ompu Eko boru Sitompul (81), warga Desa Tanjung Medan, Wardiman Mendrofa (17) dan Hendri Mendrofa (15), warga Desa Aek Uncim. Keduanya masih saudara kandung,” ungkapnya.
http://www.hariansumutpos.com/2010/04/bmkg-banjir-karena-illegal-logging.html

Rabu, 31 Maret 2010

Penentuan Tonggak Ekuator

Penentuan Tonggak EkuatorTIM ekspedisi internasional yang dipimpin oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Kota Pontianak untuk menentukan titik/tonggak garis ekuator atau Tugu Ekuator.

Berdasarkan catatan yang diperoleh pada 1941, konstruksi tugu pertama berbentuk tonggak dengan anak panah. Konstruksi tersebut dibuat berdasarkan hasil pengukuran yang menunjukkan posisi tepat Tugu Khatulistiwa berada pada 0 derajat, namun tidak dalam skala tepat 0 menit dan detiknya.

Menurut hasil pengukuran terbaru dengan menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out (titik nol garis khatulistiwa dikoreksi) oleh tim BPPT pada 2005 lalu, Tugu Khatulistiwa menunjukkan posisi tepat berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara, dan 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur.

Sedangkan posisi 0 derajat, 0 menit, dan 0 detik diperoleh melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, Kelurahan Siantan Hilir. Di tempat itu dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur yang sekarang masih ditandai dengan tali rafia.

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/03/31/132855/77/21/Penentuan-Tonggak-Ekuator
Rabu, 31 Maret 2010