Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 November 2016

MATERI OLIMPIADE GEOGRAFI, KEBUMIAN DAN ASTRONOMI

Rabu, 23 April 2014

HASIL OLIMPIADE SAINS SMA KOTA MEDAN TAHUN 2014

Ini ada beberapa file hasil OSK untuk beberapa bidang lomba saja. Sedangkan yang lain masih proses penguploadan karena file terlalu besar. Jika membutuhkan secara lengkap/ata tidak terbuka, kirimkan konfirmasi ke email saja ke sofyan_line@yahoo.com

HASIL OSK KEBUMIAN




HASIL GEOGRAFI 


HASIL ASTRONOMI







7. FISIKA

8. KIMIA

Senin, 16 Juli 2012

Air di Bumi Berasal dari Asteroid

Studi terbaru mengungkap bahwa air yang ada di Bumi berasal dari asteroid. Ini berbeda dengan pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa air berasal dari komet dari luar orbit Jupiter yang kemudian masuk ke bagian dalam Tata Surya.

Conel Alexander dari Carnegie Institution of Washington adalah peneliti yang melakukan studi itu. Ia menganalisis 86 sampel meteorit (asteroid yang jatuh ke Bumi) jenis carbonaceous chondrite, meteorit yang diduga sumber air di Bumi, kaya akan molekul hidrogen dan nitrogen.

Dalam riset, Alexander dan tim mengukur kemelimpahan isotop hidrogen , nitrogen dan karbon pada sampel meteorit. Isotop adalah unsur yang punya jumlah netron dan nomor atom berbeda. Contoh, isotop deiterium atau hidrogen berat punya satu netron, namun hidrogen tak memiliki.

Kemelimpahan hidrogen dalam asteroid menunjukkan dari bagian mana asteroid tersebut berasal. Secara umum, asteroid atau benda langit yang berasal dari wilayah luar Tata Surya (setelah sabuk asteroid antara Maras dan Jupiter) memiliki konsentrasi deuterium yang tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan 86 sampel meteorit, berdasarkan kandungan deuterium-nya, berasal dari bagian dalam Tata Surya, kemungkinan wilayah sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter. Diketahui juga bahwa komet memiliki kandungan deuterium yang tinggi. Dengan demikian, sumber air di Bumi mungkin bukan komet.

Menurut peneliti, ada banyak jenis meteorit chondrite, sulit untuk dikatakan chondrite jenis manakah yang 'mengirim' air ke Bumi. Ilmuwan menduga, air di Bumi tidak hanya berasal dari satu jenis chondrite, tetapi gabungan dari semua jenis. Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (12/7/2012).

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/07/16/1513215/Air.di.Bumi.Berasal.dari.Asteroid

Jumat, 17 Februari 2012

Dulu, Matahari Berukuran Lebih Besar


Teori yang dipercaya saat ini menyatakan bahwa semakin tua, bintang akan semakin terang. Sebabnya, inti bintang akan memadat seiring waktu sehingga semakin memanas. Berdasarkan teori ini, Matahari diperkirakan 30 kali lebih redup pada 4,5 miliar tahun yang lalu.

Namun, Steinn Sigurdsson dari Pennsylvania State University, mengatakan, "Matahari yang lebih redup menyuguhkan sebuah paradoks. Temperatur Bumi dan Mars yang diprediksikan akan terlalu dingin untuk bisa memiliki air dalam bentuk cair."

Sigurdsson dan timnya melakukan pemodelan dengan model komputer evolusi bintang MESA. Model ini dikembangkan berdasarkan kode open source yang dibuat oleh Bill Paxton dari Kavli Institute of Physics di Amerika Serikat.

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan, Sigurdsson menjelaskan bahwa pada awalnya Matahari berukuran lebih besar dari sekarang. Ukuran Matahari kemudian mengecil karena massa yang hilang diterbangkan oleh angin Matahari.

Sigurdsson mengatakan, meski lebih besar, selisihnya diperkirakan hanya 2-5 persen. Jika terlalu besar, Matahari akan berevolusi menjadi bintang yang berbeda dari saat ini. Sebaliknya, jika terlalu kecil, Bumi dan Mars takkan punya air dalam bentuk cair.

Peneliti menuturkan, jika kecepatan angin Matahari konstan sepanjang waktu, Matahari akan kehilangan 0,05 persen massanya. Namun demikian, umumnya ilmuwan percaya bahwa angin Matahari di masa lampau jauh lebih kuat dari saat ini.

Seberapa kuat? Masih diperdebatkan. Namun, untuk bisa memanaskan planet-planet seperti saat ini, ilmuwan berpendapat bahwa Matahari harus kehilangan massanya pada ratusan juta tahun pertama hidupnya. Jadi, diperkirakan angin Matahari saat itu 1000 kali lebih kuat.

Hasil pemodelan Sigurdsson masih perlu diuji. Pasalnya, ada teori lain yang memungkinkan Bumi dan Mars bisa memiliki air. Ilmuwan Carl Sagan and George Mullen misalnya, mengatakan bahwa Bumi dan Mars bisa saja lebih hangat karena gas rumah kaca.

Sagan dan Mullen berteori, Bumi pada mulanya kaya ammonia yang lalu dihancurkan oleh ultraviolet. Bumi juga mungkin saja memiliki gas karbon dioksida (CO2). Tapi dukungan untuk hal ini kurang kuat sebab CO2 dalam jumlah besar tak ditemukan pada sampel batuan tertua.

Teori gas rumah kaca sendiri punya kelemahan. Teori ini lemah untuk aplikasinya pada Mars. Mars yang ada pada jarak cukup jauh dari Matahari membutuhkan banyak sekali CO2. Konsentrasi CO2 yang terlalu banyak justru akan memantulkan panas

Berkomentar tentang hasil pemodelan Sigurdsson sendiri, Renu Malhotra dari Lunar Planetary Lab di Arizona State University mengungkapkan, "Sangat menantang untuk menemukan dukungan kuat untuk adanya bintang muda massif dalam observasi astronomi bintang muda seperti Matahari."

Namun, Malhotra mengatakan, jika memang Matahari pernah kehilangan massanya, pasti ada bekasnya. Beberapa meteorit misalnya, menunjukkan kerusakan kristal akibat angin Matahari, meski tak diketahui besarnya.

Maholtra, seperti dikutip Space, Kamis (16/2/2012) mengatakan, penyelidikan bisa dilakukan dengan melihat satelit ireguler seperti satelit Saturnus, Phoeboe. Kalau Matahari kehilangan massa, ada kemungkinan yang lebih besar bagi planet untuk "menangkap" satelit.

Sigurdsson sendiri akan berupaya menyelidiki Matahari sendiri, spesifiknya dengan kajian helioseismologi atau mempelajari getaran yang tercipta akibat aktivitas di dalam Matahari. "Inti Matahari, harapannya, akan memberikan beberapa tanda," tuturnya.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/02/17/12093590/Dulu.Matahari.Berukuran.Lebih.Besar

Venus Bergerak Lebih Lambat


Para ilmuwan menemukan bahwa Venus bergerak lebih lambat dari sebelumnya. Pada awal tahun 1990, misi Magellan NASA mengukur bahwa satu rotasi Venus memakan waktu 243,015 hari. Namun, saat ini diketahui bahwa Venus bergerak 6,5 menit lebih lambat.

Kecepatan rotasi Venus sebelumnya diketahui dengan melihat kecepatan sebuah fitur di permukaan Venus melewati wahana antariksa. Cara ini juga bisa dilakukan untuk mengetahui perlambatan atau percepatan.

Baru-baru ini, lewat pemetaan yang dilakukan dengan Venus Express Orbiter milik European Space Agency, ilmuwan menemukan bahwa sebuah fitur di Venus berjarak 20 km dari tempat yang seharusnya.

Nils Muller, ilmuwan DLR German Aerospace Centre, mengatakan, "Ketika dua peta tak sama, saya pertama mengira bahwa ada kesalahan, karena Magellan mengukur dengan sangat akurat."

Namun demikian, ia menambahkan bahwa semua pengecekan telah dilakukan. Sehingga, pada akhirnya disimpulkan bahwa kecepatan Venus memang melambat.

Ada dugaan bahwa perlambatan rotasi Venus disebabkan oleh gesekan atmosfer Venus dan angin yang bergerak cepat. Diketahui, atmosfer Bumi memengaruhi kecepatan rotasi Bumi.

Tapi, Hakam Svedhem dari misi Venus Express, seperti dikutip National Geographic, Selasa (14/2/2012) mengatakan, "Sangat sulit menemukan mekanisme yang mengubah rotasi rata-rata sebesar ini dalam 16 tahun."

Ia menambahkan, "Penyebab utamanya bisa siklus Matahari atau pola musim yang berkepanjangan sehingga memodifikasi dinamika atmosfer. Tapi, teka-teki ini belum terjawab."

Sebuah laporan menyatakan, momentum sudut antara Venus dan Bumi bisa mengubah kecepatan rotasi. Momentum sudut antara Bumi dan Bulan telah terbukti mempengaruhi rotasi Bumi.

Namun, kata Svedhem, dengan jarak Bumi-Venus yang sejauh 38 juta kilometer, diperkirakan tak ada pertukaran momentum sudut antara Bumi dan Venus.

Menanggapi hasil riset, Svedhem mengatakan bahwa penyebab perlambatan rotasi ini harus ditemukan. Penelitian diperlukan untuk bisa memperkirakan pendaratan misi antariksa di lokasi tertentu Venus.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/02/15/09082461/Venus.Bergerak.Lebih.Lambat

Selasa, 07 Februari 2012

Dua Bulan Baru Jupiter Ditemukan

Astronom menemukan dua bulan baru yang mengorbit planet Jupiter. Dengan penemuan ini, jumlah bulan planet terbesar di tata Surya itu bertambah menjadi 66 buah.

Dua bulan baru Jupiter itu disebut S/2011 J1 dan S/2011 J2. Keduanya berhasil diidentifikasi menggunakan Magellan Baade Telescope di Las Campanas Observatory, Chile, pada 27 September 2011.

Dua bulan yang ditemukan merupakan anggota dari objek terkecil di Tata Surya. Diameter kedua bulan baru Jupiter itu hanya sekitar 1 km.

Dengan demikian, tak seperti empat bulan besar Jupiter lain yang mudah dilihat dengan teleskop sederhana, kedua bulan ini tampak amat redup sehingga sulit diamati. Jarak kedua bulan dengan Jupiter amat jauh sehingga butuh waktu 580 hari dan 726 hari bagi kedua bulan untuk mengelilingi Jupiter.

"Bulan-bulan ini adalah bagian dari kawanan objek retrograde terluar di sekeliling Jupiter," kata Scott Sheppard, ilmuwan dari Department of Terrestrial Magnetism di Carnegie Institute for Science, Washington.

Retrograde adalab bulan atau satelit yang mengorbit berlawanan dengan arah rotasi planet. S/2011 J1 dan S/2011 J2 adalah dua dari 52 bulan Jupiter yang termasuk retrograde.

Sheppard mengatakan bahwa Jupiter kemungkinan memiliki lebih banyak satelit lagi. Dan, diantara banyak satelit, banyak yang merupakan bulan-bulan mini layaknya S/2011 J1 dan S/2011 J2.

Ilmuwan mengungkapkan, S/2011 J1 dan S/2011 J2 termasuk dalam jenis bulan ireguler, mengorbit planet pada jarak jauh serta memiliki orbit eksentrik dan cenderung miring.

Karena karakteristik orbit itu, kedua bulan itu diperkirakan adalah sebuah komet atau asteroid yang di masa lalu "tertangkap" oleh gaya gravitasi Jupiter, kemudian berubaha status menjadi bulan.

"Karena bulan-bulan ireguler ini tertangkap pada masa-masa awal Tata Surya, mereka bisa memberi petunjuk bagaimana planet terbentuk dan proses evolusinya," ungkap Sheppard seperti dikutip National Geographic, Kamis (2/2/2012).

Jupiter memiliki 4 satelit besar dan terkenal, yakni Io, Ganymede, Europa dan Callisto. Biasanya, bulan Jupiter diberi nama berdasarkan nama dewa Romawi dan Yunani.

Publik mungkin mendambakan nama yang lebih familiar pada dua bulan baru yang baru saja ditemukan. Tapi, nama itu baru akan diberikan setelah observasi terhadap bulan baru dilakukan setidaknya selama satu tahun.

Penemuan dua bulan baru Jupiter ini diumumkan di Central Bureau for Astronomical Telegrams, International Astronomical Union, minggu lalu.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/02/06/08312948/Dua.Bulan.Baru.Jupiter.Ditemukan

Rahasia Lingkungan Luar Tata Surya Terkuak


Rahasia lingkungan di luar Tata Surya sedikit terungkap setelah beberapa ilmuwan menemukan bahwa lingkungan di luar pengaruh Matahari berbeda, serta jauh lebih aneh dari yang dibayangkan.

Perbedaannya adalah pada jumlah oksigen. Ada lebih banyak oksigen yang terdapat di Tata Surya daripada di interstellar atau wilayah antarbintang.

Ilmuwan belum mengetahui sebabnya. Namun, ada kemungkinan materi yang mendukung kehidupan tersembunyi di debu atau es angkasa.

"Kami menguak teka-teki besar bahwa material di luar Tata Surya berbeda dengan yang ada di dalam," kata David McComas dari Southwest Research Institute, Texas, seperti dikutip AP, Selasa (31/1/2012).

Terkuaknya teka-teki ini tak lepas dari jasa wahana antariksa Interstellar Boundary Explorer (Ibex), yang diluncurkan tahun 2008. Wahana antariksa itu diutus untuk mempelajari lingkungan batas Tata Surya di mana aliran partikel dari Matahari bertumbukan dengan gas dingin di area antarbintang.

Mengelilingi dari jarak 320.000 km di atas Bumi, Ibex mendeteksi partikel yang mengalir ke Tata Surya. Gelembung pelindung yang mengelilingi Matahari dan planet mencegah radiasi kosmik masuk, tetapi partikel netral bisa lewat dengan mudah sehingga Ibex bisa mengetahui distribusinya.

Meski lingkungan luar Tata Surya memiliki oksigen lebih sedikit, hal ini tak selayaknya menjadi alasan dihentikannya pencarian planet mirip Bumi.

Geoff Marcy dari Universitas California Berkeley mengatakan, ada banyak oksigen di bintang lain dalam wilayah Bimasakti dan di luar wilayah tempat biasa terbentuk bintang dan planet.

Ilmuwan juga masih bisa berharap pada hasil penelitian wahana antariksa Voyager yang diluncurkan tahun 1977 dan mengeksplorasi perbatasan Tata Surya sejak 2004. Dalam beberapa bulan lagi, Voyager akan memasuki wilayah antarbintang dan siap menguak rahasia lain

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/02/01/11553322/Rahasia.Lingkungan.Luar.Tata.Surya.Terkuak

Selasa, 03 Januari 2012

Fenomena Langit Langka Akan Terjadi Tahun 2012


Fenomena langit langka akan terjadi pada pertengahan tahun ini, tepatnya 6 Juni 2012. Venus akan singgah di muka Matahari yang dalam astronomi dikenal sebagai transit Venus.

Saat transit Venus terjadi, Bumi, Venus, dan Matahari ada dalam posisi segaris. Venus berada di antara Bumi dan Matahari. Posisi tersebut mirip seperti saat gerhana Bulan, yaitu saat Bulan, Bumi, dan Matahari ada dalam posisi segaris. Perbedaannya, saat transit Venus, piringan Venus tidak cukup besar untuk bisa menutupi piringan Matahari yang lebih besar.

Transit Venus terjadi hanya dua kali dalam seabad. Berdasarkan informasi NASA, fenomena ini baru terjadi tujuh kali sejak teleskop ditemukan, yakni tahun 1631, 1639, 1761, 1769, 1874, 1882, dan 2004. Transit Venus terjadi dalam periode waktu dengan formula 8, 121, 5, 8, dan 105,5 tahun.

"Jadi, rugi kalau tidak menyaksikan karena ini adalah yang terakhir dalam masa hidup kita," kata Mutoha Arkanuddin dari Jogja Astro Club saat dihubungi Kompas.com, Senin (2/1/2012). NASA memperkirakan, fenomena ini baru akan terjadi lagi tahun 2117.

Tahun ini, warga Bumi yang berkesempatan menyaksikan transit Venus adalah yang berada di wilayah Amerika Utara, Hawaii, Pasifik bagian barat, Asia bagian utara, Jepang, Korea, China bagian timur, Filipina, Australia bagian timur, dan Selandia Baru. Seluruh warga Indonesia pun bisa melihat fenomena langka ini.

Berdasarkan peta NASA, warga Indonesia bagian barat meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat hanya berkesempatan melihat sebagian proses transit. Adapun warga Indonesia di Sulawesi Utara dan Tenggara, bagian timur Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua bisa melihat keseluruhan proses transit.

"Untuk Indonesia bagian timur, sejak Matahari terbit sudah bisa melihat kontak awal Venus dengan Matahari. Sementara kalau yang di bagian barat akan melihat saat Venus sudah ada di piringan Matahari," papar Mutoha.

"Transit akan dimulai dari sisi bawah Matahari pada pukul 05.14 WIB terus bergerak ke barat melewati muka Matahari sampai pukul 11.50 WIB," tutur Mutoha. Transit berlangsung selama lebih kurang enam jam dan berdasarkan informasi NASA, Venus akan berada di tengah piringan Matahari pada pukul 08.32 WIB.
Mutoha mengatakan, karena obyeknya berkaitan dengan Matahari, pengamatan transit Venus sebaiknya dilakukan menggunakan teleskop. Transit Venus sulit diamati dengan mata telanjang sebab piringannya kecil serta disilaukan sinar Matahari. Cara lain adalah dengan teknik proyeksi, tetapi sulit. Pengamat harus berhati-hati dengan cahaya Matahari.

Menyongsong fenomena langka ini, Jogja Astro Club sudah menyusun persiapan untuk pengamatan serta membuat pernak pernik terkait transit Venus.  Himpunan Astronom Amatir Jakarta yang bermarkas di Planetarium Taman Ismail Marzuki pun bersiap menyongsong fenomena ini. Jadi, pengamatan pun akan bisa dilakukan bersama kalangan astronom amatir di setiap kota, lebih aman bagi yang belum pernah melakukan pengamatan.

Transit Venus digunakan ilmuwan sebagai momen penelitian tentang fenomena Black Drop, yaitu saat Venus kontak dengan Matahari, tampak bahwa ada bagian Venus yang memanjang. Jadi, jangan sampai melewatkan kesempatan ini.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2012/01/02/15164957/Fenomena.Langit.Langka.Akan.Terjadi.Tahun.2012

Pasangan Venus Bukan Mars, tapi Jupiter dan Saturnus



Selama ini Venus yang diidentikkan dengan perempuan selalu diidentikkan sebagai pasangan Mars yang jadi lambang laki-laki. Namun, khusus tahun 2012 ini, pasangan Venus bukan hanya Mars. Pada tahun ini, planet kedua terdekat dari Matahari itu malah akan berpasangan dengan dua planet lain, Jupiter dan Saturnus.
Venus akan berpasangan dengan Jupiter pada petang hari tanggal 14 Maret 2012. Sementara Venus dengan Saturnus akan terjadi menjelang fajar pada tanggal 27 November 2012. Venus, Jupiter, dan Saturnus akan tampak berdekatan satu sama lain.
Dalam istilah astronomi, fenomena saat dua planet saling berdekatan disebut konjungsi. Konjungsi Venus dan Jupiter paling tepat dilihat pada 14 Maret 2012 antara pukul 18.30 - 19.00 WIB. Saat konjungsi, keduanya cuma akan terpisah sejauh 3 derajat. Keduanya akan bersinar di langit bagian barat. Jupiter tampak dengan magnitud -1,97 dan Venus -4,17.
Sementara, konjungsi Venus dan Saturnus bisa dilihat pada 27 November 2012 mulai pukul 04.00 WIB di langit timur. Venus akan tampak dengan magnitud -3,87 sedangkan Saturnus bermagnitud 1,33. Jarak keduanya sangat dekat hingga hampir menyatu, cuma terpisah 1 derajat.
Konjungsi planet adalah hal yang biasa terjadi dalam astronomi. Fenomena ini bisa disaksikan dengan mata telanjang, namun bisa disaksikan lebih jelas dengan teleskop. Magnitud merujuk pada kecerlangan benda langit. Makin negatif, makin cerlang.
Konjungsi Venus-Jupiter diperkirakan pernah terjadi tahun 3 SM dan dikaitkan dengan Bintang Natal, fenomena yang dilihat para Majus terkait dengan kelahiran Yesus. Namun, hingga saat ini belum dipastikan apakah Bintang Natal ialah Konjungsi Venus-Jupiter.
Sementara, konjungsi Venus dan Saturnus tahun ini akan lebih istimewa. Tepat saat dua planet tersebut berpasangan, Merkurius akan datang menemani. Ini bisa dilihat sekitar pukul 04.30 dini hari tanggal 27 November 2012.
Konjungsi Venus-Jupiter serta Venus-Saturnus tak berlangsung lama. Venus-Jupiter akan tenggelam cepat setelah konjungsi. Sementara, Venus-Saturnus akan cepat tak tampak karena fajar tiba. Jadi, jangan sampai terlewat. Dan, tenang saja, konjungsi Venus tak akan menimbulkan keributan apapun

http://sains.kompas.com/read/2012/01/01/18013288/Pasangan.Venus.Bukan.Mars.tapi.Jupiter.dan.Saturnus

Selasa, 29 November 2011

TITAN LEBIH LAYAK HUNI DIBANDING MARS


Selama ini, banyak orang berpikir bahwa Mars adalah planet yang paling layak dihuni setelah Bumi. Bisa dipahami memang, sebab Mars adalah planet yang paling sering digembar-gemborkan memiliki potensi untuk mendukung kehidupan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa ada tempat lain yang lebih mirip Bumi sehingga bisa dikatakan lebih layak huni.

Dr Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University dalam publikasinya di jurnal Astrobiologi menyatakan, dalam pemeringkatan bahwa Titan, bulan Planet Saturnus, adalah benda langit paling layak huni, mengalahkan planet merah, Mars.

Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet yang dikembangkan, seperti diuraikan BBC, Rabu (23/11/2011), Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1. Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan bulan Jupiter (0,47). Dua eksoplanet yang dinyatakan layak huni adalah Gliese 581 g (0,49) dan Gliese 581d (0,43).

Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi layak huni sebab terbukti memiliki air dan energi.

Penelitian planet layak huni belakangan ini maju pesat, salah satunya dengan sumbangan teleskop antariksa Kepler yang berhasil menemukan lebih dari 1.000 kandidat planet layak huni. Teleskop di masa depan diperkirakan bisa mendeteksi biomarker, seperti cahaya atau pigmen klorofil yang ada pada tumbuhan.

Selain menyusun pemeringkatan planet layak huni, Schulze-Makuch juga menyusun Indeks Kemiripan Bumi untuk mengetahui planet dan bulan yang kondisinya paling mirip dengan Bumi. Hasilnya juga menyatakan bahwa Mars bukanlah yang pertama.

Gliese 581g adalah planet yang paling mirip Bumi, dengan skor 0,89 sementara Gliese 581d punya skor 0,74. Mars sendiri punya skor 0,7 dan Merkurius 0,6. Indeks Kemiripan Bumi dikembangkan dengan melihat ukuran planet, densitas, dan jarak dari bintang induk.

Gliese 581g dan Gliuese 581d adalah planet yang mengorbit bintang katai merah Gliese 581. Meski layak huni dan mirip Bumi, mencapai kedua planet itu terbilang sulit karena jaraknya yang sangat jauh. Gliese 581g berjarak 198 miliar kilometer.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/11/29/08385658/Titan.Lebih.Layak.Huni.Dibanding.Mars