Tampilkan postingan dengan label Atmosfer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atmosfer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

AWAN MENDUNG BERWARNA GELAP


 

Awan warnanya seputih kapas. Air tak berwarna alias bening. Tapi mengapa awan mendung warnanya gelap, ya? Jawabannya karena menyerap cahaya dan tidak menyebarkannya.

Seperti kita tahu, udara di sekitar penuh dengan air dalam bentuk gas atau uap air. Nah, udara dingin naik ke atas lapisan atmosfer lebih tinggi dan menyebabkan uap air mengembun. inilah proses pembentukan awan. 

Partikel-partikel di atmosfer menghamburkan cahaya dari matahari, tata surya yang gelap, dan akhirnya menghasilkan warna biru pada langit. Jadi, langit berwarna biru karena faktor tersebut. Tapi tidak demikian dengan awan, ia tidak membiaskan warna biru melainkan menyebarkan semua warna cahaya sehingga akhirnya membentuk warna putih.

Untuk lebih memahami ini coba ingat pelajaran fisika tentang prisma warna. Warna putih yang diteruskan lewat prisma tersebut menghasilkan banyak warna pelangi. Begitulah kira-kira prinsip awan, ia mengumpulkan semua warna dan menghasilkan warna putih.

Demikian pula, karena awan menyerap semua cahaya, maka begitu uap air pembentuk hujan atau salju semakin banyak berkumpul, yang dihasilkan adalah warna gelap (kelabu). Ini terjadi karena begitu tebalnya lapisan air dalam awan tersebut. Berarti, semakin gelap awan yang kita lihat, semakin tebal dan tinggi air yang ada.

Sumber : http://www.apakabardunia.com/2013/11/mengapa-awan-mendung-berwarna-gelap.html
 

Jumat, 09 April 2010

BMKG WILAYAH I MEDAN OPERASIONALKAN RADAR CUACA CANGGIH BUATAN AMERIKA

Balai Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan mengoperasionalkan pemakaian radar cuaca baru serta kalibrasi.
Pemakaian radar baru diresmikan Gubsu H Syamsul Arifin SE dan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dr Ir Sriworo Budiati Harjono MSc di kantor BMKG Wilayah I Medan, Kamis (8/4).
Menurut Sriworo, penggunaan radar baru buatan Amerika itu sangat membantu mengetahui bentuk dan pola cuaca di wilayah BMKG Medan.
Sebab, katanya, pola perubahan iklim akan berdampak pada sistem pertanian, kesehatan dan pariwisata. Paling tidak, harus beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi.
Hasil analisa BMKG, lanjutnya, 30 tahun ini terjadi pergeseran awal musim 10-20 hari. Bahkan, dibanding 100 tahun lalu, kini suhu sudah naik 1,14 derjat celsius. Begitu juga air laut naik mencapai 18 centimeter.
Gubsu H Syamsul Arifin menyambut baik pemakaian radar terbaru yang canggih buatan Amerika tersebut. Dengan begitu, diharapkan mampu mendeteksi lebih awal keadaan iklim di Sumatera Utara. Sehingga, bisa meminimalisir mitigasi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
UP TO DATE
"Radar cuaca terbaru ini diharapkan memberikan info prakiraan cuaca yang up to date dengan suatu prakiraan rinci dan akurat. Ini akan mendukung pemerintah daerah untuk menanggulangi mitigasi dari risiko bencana alam," sebut Gubsu.
Gubsu berharap, informasi keadaan iklim yang diketahui BMKG Wilayah I Medan itu dilanjutkan ke seluruh jajaran SKPD di setiap kabupaten/kota. Dengan begitu, pemerintah daerah kabupaten/kota bisa sesegera mungkin memberikan peringatan (warning) jika ada bencana.
Sementara, Kepala BMKG Wilayah I Medan Drs Herry Saroso menyebutkan, pemakaian radar cuaca terbaru itu merupakan suatu bentuk kebutuhan karena isu pemanasan global, perubahan iklim dan tingginya permintaan informasi iklim.
Dengan alat ini, lanjutnya, maka akan dapat laporan lengkap tentang jumlah awan, intensitas awan, posisi awan, prakiraan jatuhnya hujan, arah dan kecepatan angin.
"Bahkan, untuk keperluan penerbangan di Bandara Polonia radar cuaca ini sangat membantu. Sehingga, meminimalisir kecelakaan penerbangan akibat iklim," ungkapnya.
Secara teknis, lanjutnya, radar tersebut tipe DWSR 2501 C (SD) buatan yang dibuat Enterprise Electronic Coorporation (EEC) Amerika Serikat tahun 2009.
Daya jangkaunya maksimal 480 Km. Namun karena lengkung bumi daya jangkau efektif 250 Km. Sehingga, sepanjang Selat Malaka bisa diketah
http://pemkomedan.go.id/news_detail.php?id=8953

Kamis, 18 Maret 2010

Bangun Climate Change Center

Jakarta - Perubahan iklim rupanya menjadi salah satu fokus penelitian di Universitas Indonesia (UI), Depok. Sebuah pusat penelitian tentang perubahan iklim (Climate Change Center) pun didirikan di kampus tersebut.

"Climate Change Center itu wadah bagi para penliti UI yang akan mengembangkan keahliannya secara interdisipliner," ujar Rektor UI Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri saat konferensi pers usai menghadiri pembukaan International Workshop on Climate Change di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (18/3/2010).

Namun, lanjutnya, tidak hanya peneliti UI maupun peneliti di dalam negeri saja yang bisa memafaatkan lembaga baru tersebut. Para peneliti asing pun dipersilakan untuk melakukan kegiatan penelitian sehingga terjalin kerjasama yang erat.

Gumilar menjamin, pusat penelitian baru itu bisa menghasilkan produk-produk yang konkret bagi upaya memerangi perubahan iklim.

"Oh konkret. Dan kita tidak mau main-main lagi dengan hal-hal yang bersifat teoritis. Teori penting. Jadi teori yang bisa langsung diaplikasikan, dan aplikasinya harus memecahkan persoalan masyarakat dan bangsa," katanya.

Dikatakan dia, pendirian pusat pengkajian perubahan iklim itu merupakan bagian dari aksi-aksi sebelumnya yang pernah dilakukan UI. Misalnya saja, UI mengajak para mahasiswa untuk naik sepeda ke kampus, rencana pembangunan trem, dan penanaman 200 ribu pohon di kampus Depok selama dua tahun ini.

"Ini sebagai sebuah action dari center seperti ini. Dan kita ingin hal-hal yang dikembangkan riset diimplementasikan di kampus, menjadi contoh, dan disebarluaskan dan memberikan inspirasi bagi menteri-menteri," jelas dia.

Sementara itu, salah satu peneliti di Climate Change Center, Tiarko Nurlambang, mengatakan, lembaga itu dioperasikan mulai bulan ini. Pertamakalinya, pusat penelitian ini akan fokus kepada strategi mitigasi dan adaptasi.

"Bentuknya bisa penelitian bersama, atau membangun model-model aplikasi yang lebih tepat guna dan juga untuk memberikan kapasitas yang tinggi kepada masyarakat umum dan industri untuk lebih bisa mempersiapkan diri menghadapi climate change," kata Tiarko yang juga menjadi Kepala Pusat Penelitian Geografi Terapan UI ini.

http://www.detiknews.com/read/2010/03/18/144206/1320451/10/perangi-perubahan-iklim-ui-bangun-climate-change-center, Kamis, 18 Maret 2010