Jumat, 04 Januari 2013

LAMPU PENTIL SEPEDA



Sepeda balap tua yang menemani kuliah semenjak tahun 2001 kini sudah berubah. Warna dan tampilannya tak nampak lagi tua. Sepeda ini sudah digunakan dari generasi-ke generasi. Digunakan oleh Rendi (kemanakan) jurusan seni rupa Unimed yang menggunakan dumulai tahun 2004. Selanjutnya Rizki (kemanakan) bersekolah di MAN 2 Medan juga pernah merasakan sepeda ini untuk pergi-pulang termasuk jalan-jalan. 

Sepeda ini sudah lama dimiliki dan membelinya juga tidak baru ketika itu bapak yang membelikan setelah permintaanku untuk memiliki sepeda. Dari kampungku (stabat) dinaikan ke Bus menuju Medan, selanjutnya sepeda di dayung dari Kampung Lalang sampai di Jl. Wiliem Iskandar Gg. Pribadi Simpang Bhayangkara tempat kontrakan ketika mahasiswa.

Saat ini sepeda sudah berubah setelah selalu pindah kontrakan dari kontrakan pertama sampai kontrakan keenam. he.he (semuanya di sekitar Medan Tembung). Saat ini sepeda sudah berada di tempat yang tetap di rumah tercinta di Jl. Kapten. M. Jamil Lubis Gg. Family No. B-6 Medan Tembung juga. Sepeda ini belum ada namanya dan sekarang sudah mengikuti jamannya karena terikut dengan "model fisie" yang lagi ngetren. Untuk memodikasinya adalah siswa yang tergabung dalam PEDAL (Pencinta Sepeda SMA Negeri 15 Medan) dari warna cat, ban, lingkar, pedal sampai yang lainnya. Siswa mengambil dari rumah dan dimodifikasi sampai beberapa minggu dan lumayan banyak habis uang itu. Setelah di motifikasi yang menarik adalah tampilan yang begitu beda. Batang lama namun kualitas yang baik (kata siswa).

Yang menarik dari sepeda ini adalah penamahan aksesoris LAMPU PENTIL SEPEDA (LPS). Jika roda ini berputar maka lingkar akan muncul warna yang berputar. Sistem lampu ini akan mengeluarkan cahaya setelah ada gerak melalui sensor. Lampu ini menggunakan daya batrai 3 buah di dalamnya. LPS diperoleh melalui belanja online dan harganya cukup murah namun ditambah ongkos kirimnya, sehingga sedikit mahal dan hanya membeli 2 pasang saja berwarna hijau dan pink. Ketika dipasang, tak keluar cahaya, ternyata didalamnya belum dibuka pembatas batrai dengan elemen yang ada didalamnya. Setelah di tes, terasa indah. 

Malam hari menjadi uji coba pertama keluar rumah melewati jalan menuju tempat fotocopy dan cuci foto. Ketika baru keluar rumah, anak-anak yang melihat begitu tertarik dan melihat sembari berkomentar, wui-keren. itu kata-kata mereka. Terus menggayu sepeda, maka berpapasan lagi sama anak-anak kecil, dan terpesona dengan warna cahaya di lingkar sepeda, sepertinya mereka jarang melihatnya. Banyak orang di jalan melihat hal itu dan terpesona sama warna cahanya dan bukan sama orang yang menggayu nya.he.he

Sepeda di ayunkan terus di sekitar jalan gelap menuju pulang, terdengar suara 2 anak di bonceng sepeda motor oleh ibunya, serius memperhatikan juga, dan keren sekali upin-ipinya. Waduh, terkejut kali kata-kata itu dilontarkan. Sampai kejauhan juga ke2 anak itu masih melihat kebelakang sepeda yang saya naiki. Begitu juga mobil yang melintas di belakang, terdapat beberapa anak-anak melihat juga dan terus memandangi dari dalam mobilnya dan sekali-kali melihat dari spion mobilnya. Ketika dilampu merahpun, mata melirik ke mobil yang dinaiki beberapa anak itu, mereka tetap memandangi sepeda ini.

Sepertinya mereka kagum dengan warna yang dikeluarkan dari perputaran roda sepeda ini. Semoga hal ini bagian usaha membahagiakan diri untuk menikmati bersepeda, juga untuk memberikan dorongan kepada orang lain untuk menyukai bersepeda baik, pagi, siang atau malam. Bahwa bersepeda itu memiliki banyak keuntungan. Sehat karena menggerakan otot-otot tubuh manusia, Hemat karena bermodalnya energi di dalam tubuh dan bukan energi minyak, listrik atau gas untuk menggerakannya sehingga tidak mengeluarkan biaya dan hemat energi, Cinta sebagai bagian dari hobi terhadap sepeda dan lingkungan sekitar, tidak berpolusi.

Semoga Lampu Pentil Sepeda ini juga memberikan motivasi dan semangat untuk terus berwarna. 
Sehat, Hemat dan Cinta

Wassalam
Sofyanto